Minggu, 06 Januari 2013

Budaya Konsumtif , Manusia sebagai Konsumen Sejati. Benarkah ?

Budaya urban kini telah melekat erat pada kehidupan di kota-kota besar di Indonesia. Gaya kehidupan yang sebelumnya tidak disebut sebagai budaya, namun telah merambah ke semua kalangan masyarakat yang tengah menjalani kehidupan di kota. Kota tak lagi berbudaya nenek moyang kita. Adat-istiadat seperti tata karma yang dulu dijaga oleh generasi pendahulu kian hari luntur oleh budaya-budaya baru yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Identitas sebagai masyarakat yang berbudaya bangsa Indonesia tidak lagi terjaga.


Salah satu yang melekat pada budaya urban di kota adalah budaya konsumtif. Budaya konsumtif seakan tidak dapat lagi dihindari pada zaman yang serba modern dan canggih akan teknologi ini. Semua orang membutuhkan sesuatu lebih cepat dan mudah didapat. Yang mana, saat ini hal tersebut diistilahkan sebagai masyarakat pragmatis. Segalanya ingin lebih cepat dan mudah didapat ataupun dalam pengerjaannya. Yang lebih parah lagi, pada era ini manusia sudah seperti robot yang dikendalikan oleh teknologi.
Kali ini tidak akan jauh dari pembahasan budaya konsumtif yang melanda masyarakat sosial di dunia, terutama pada masyarakat urban. Budaya konsumtif yang dimaksud adalah manusia sebagai pelaku konsumsi terhadap suatu produk atau jasa yang memang dikemas sedemikian rupa oleh produsen untuk menarik minat konsumen. Dalam hal ini, konsumen menggunakan produk atau jasa tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan, namun juga karena keinginan semata yang belum tentu berguna nantinya.
Pada era industri, yang mana pada saat ini banyak orang yang ingin membuka lapangan usaha atau bahasa ilmiahnya sebagai entrepreuner, semakin membuat suatu fakta bahwa pada kenyataannya manusia ini adalah konsumen yang sejati. Tidak hanya pada kenyataan alam, manusia sebagai konsumen dari makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang lain, di mana tumbuhan sebagai produsen utama, karena mampu mengolah makanan sendiri, kini manusia juga sebagai konsumen pada siklus kehidupan yang dibuat oleh pasar industri.
Untuk menguatkan pernyataan tersebut, mari kita tengok fakta yang terjadi pada lingkungan sekitar kita.
Terdapatnya mall-mall sebagai pusat pembelanjaan di kehidupan kota, yang mana tiap harinya lebih dari seribu orang yang mengunjungi mall sebagai pelepas keinginan, entah ingin berbelanja, sekedar nonton film di bioskop, jalan-jalan, duduk-duduk dengan mengerjakan tugas, atau makan-makan saja. Hal ini semakin membuat fakta, bahwa mall sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat urban, yang mana sebelumnya hanya sebagai hiburan saja. Tapi kali ini, mall yang ada di Surabaya saja, yang entah berapa jumlahnya, tak pernah juga sepi akan pengunjung.
Fenomena yang tak kalah penting adalah semakin banyak industri jasa yang menawarkan kemudahan dalam melakukan aktivitas rumah tangga. Misalnya, semakin banyaknya jasa laundry yang kini tengah melanda masyarakat di kota. Contoh lain, jasa penitipan anak bagi ibu yang berkarir di luar rumah.
Fenomena lain terjadi di kampus penulis, di kantin fakultas yang selama ini menjadi tempat favorit sebagai penikmat kuliner. Saat ini kurang lebih ada 19 pedagang yang berjualan di sebuah fakultas yang tidak terlalu besar, daya beli pun juga tinggi, tidak hanya dari fakultas tersebut, tapi juga dari fakultas lain. Padahal. di tiap fakultas telah difasilitasi kantin sendiri. Lebih dari seribu mahasiswa dan masyarakat kampus yang berkunjung di kantin tersebut. Karena semakin bervariasi makanan, semakin membuat pembeli tertarik.
Saat ini budaya konsumtif tidak hanya melanda pada masyarakat menengah ke atas, namun juga pada kalangan masyarakat menengah ke bawah. Karena indutri telah mendesain produk biasa atau mengimitasi dari produk-produk yang bermerk. Misalnya, pada HP Blackberry yang diketahui merupakan HP canggih dengan fitur lengkap dan harga tinggi, kini telah beredar banyak imitasi serupa HP Blackberry yang didesain oleh pengusaha dari China dengan harga yang miring dari harga Blackberry aslinya. Dan luar biasa, meski tiruan, penjualan produk tersebut sangat laris di pasaran.
Hal lain yang perlu kita koreksi pada diri sendiri, apakah kita membeli produk berdasarkan kebutuhan, ataukah hanya keinginan untuk membeli, atau kita hanya membeli merk yang ditawarkan suatu produk?
Fenomena-fenomena di atas tidak bisa lepas dari kehidupan di kota. Karena semakin meningkatnya kebutuhan, semakin meningkat pula produk yang ditawarkan. Sebagai konsumen yang baik, ukurlah suatu produk berdasarkan nilai kebutuhan, kegunaan, dan estetikanya. Jangan hanya membeli karena keinginan, gaya hidup
semata.

sumber:
http://pesma.sdm-iptek.org/berita/news_detail.php?id=30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar