Kelas sosial dan Status Sosial bisa dibilang bisa mempengaruhi
Perilaku Konsumen terhadap Pembelian, arti dari kelas sosial dan status
sosial sendiri adalah :
Kelas Sosial
Kelas sosial adalah pembagian anggota masyarakat ke dalam suatu
hierarki status kelas yang berbeda sehingga para anggota setiap kelas
secara relatif mempunyai status yang sama, dan para anggota kelas
lainnya mempunyai status yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Status Sosial
Menurut Ralph Linton Status sosial adalah sekumpulan hak dan kewajian
yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya. Pada zaman dulu memang
kelas sosial atau yang lebih dikenal dengan kasta sudah ada, contohnya
seperti
· Brahmana (pendeta)
· Kesatria (prajurit dan pemerintah)
· Waisya (Pedagang)
· Sudra (Pelayan)
Pengaruh dari adanya kelas social dan status terhadap perilaku
konsumen begitu tampak dari pembelian akan kebutuhan untuk sehari-hari,
bagaimana seseorang dalam membeli akan barang kebutuhan sehari-hari baik
yang primer ataupun hanya sebagai penghias dalam kelas sosial begitu
berbeda. Untuk kelas sosial dari status yang lebih tinggi akan membeli
barang kebutuhan yang bermerek terkenal, ditempat yang khusus dan
memiliki harga yang cukup mahal. Sedangkan untuk kelas sosial dari
status yang lebih rendah akan membeli barang kebutuhan yang sesuai
dengan kemampuannya dan ditempat yang biasa saja. Adapun yang merupakan
ukuran kelas sosial dari konsumen yang dapat diterima secara luas dan
mungkin merupakan ukuran kelas sosial terbaik terlihat dari pekerjaan,
pendidikan dan penghasilan.
Peranan dan Status
Sepanjang kehidupan, seseorang akan terlibat dalam beberapa kelompok
baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya : keluarga, klub
dan organisasi. Kedudukan seseorang dalam setiap kelompok dapat
diartikan sebagai Peranan dan Status.
a. Faktor Pribadi
Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh ciri-ciri
kepribadiannya, termasuk usia dan daur hidupnya, pekerjaannya, kondisi
ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri.
b. Faktor Psikologis
Pilihan seseorang membeli juga dipengaruhi oleh empat faktor
psikologis utama, yaitu : motivasi, persepsi belajar, kepercayaan dan
sikap. Motivasi seperti yang diterangkan oleh teori Robert Maslow:
Dimulai dengan kebutuhan-kebutuhan fisiologis (lapar, haus), disusul
kebutuhan-kebutuhan keselamatan (perasaan aman, perlindungan), kemudian
kebutuhan-kebutuhan sosial (perasaan menjadi anggota lingkungan dan
dicintai), selanjutnya kebutuhan-kebutuhan untuk dihargai (harga diri,
pengakuan, status) dan mengkerucut ke kebutuhan-kebutuhan pernyataan
diri (pengembangan dan perwujudan diri).
Pendekatan yang sistematis untuk mengukur kelas sosial mencakup dalam berbagai kategori berikut:
1. Ukuran Subyektif
Dalam pendekatan subyektif untuk menguukur kelas sosial, para
individu diminta untuk menaksir kedudukan kelas sosial mereka
masing-masing. Klasifikasi keanggotaan kelas sosial yang dihasilkan
didasarkan pada persepsi partisipan terhadap dirinya.
2. Ukuran Reputasi
Pendekatan reputasi untuk mengukur kelas sosial memerlukan informan
mengnai masyarakat yang dipilih untuk membuat pertimbangan awal mengenai
keanggotaan kelas sosial orang lain dalam masyarakat.
3. Ukuran Obyektif
Berbeda dari metode subjektif dan reputasi, yang mengharuskan orang
memimpikan kedudukan kelas mereka sendiri atau kedudukan para
anggotanya.
Minggu, 06 Januari 2013
Pentingnya membedakan Keinginan dengan Kebutuhan
Manusia terlahir dengan banyak keinginan. Ingin memiliki rumah besar,
mobil bagus, handphone paling mutakhir, baju baru, jam mewah dan
berbagai hal lainnya. Sebagian kecil dari keinginan tersebut adalah
kebutuhan, tapi sebagian besarnya biasanya tidak. Dalam posting ini,
saya ingin membedakan antara keinginan dan kebutuhan terkait dengan
perencanaan keuangan keluarga.
Kebutuhan adalah fungsi dasar atas sesuatu yang secara esensial diperlukan: makan untuk memenuhi nutrisi, tempat tinggal untuk istirahat, transportasi untuk bekerja, pendidikan untuk masa depan anak dan lain-lain.
Sedangkan keinginan adalah semua fungsi tambahan yang jika tidak ada sebenarnya tidak mengganggu hidup Anda akan tetapi Anda mengharapkan untuk bisa mendapatkan fungsi tambahan tersebut. Makanan yang mahal, rumah yang besar dan mewah, mobil baru dan mengkilat, dan seterusnya. Keinginan seringkali merupakan perwujudan untuk menegaskan status sosial seseorang sekaligus membuktikan kepada orang lain bahwa dia mampu memilikinya.
Sebagai contoh, ada keluarga yang rela mengambil kredit untuk membeli sebuah TV LCD baru berharga di atas 10 juta rupiah. Padahal sebelumnya keluarga tersebut masih memiliki TV yang cukup baik dan besar meskipun sudah berumur beberapa tahun. Dengan pembelian TV baru tadi mau tidak mau mengganggu pengeluaran rutin keluarga tersebut sampai-sampai uang sekolah anak harus menunggak karena tagihan kredit yang jatuh tempo.
Contoh lain adalah seorang eksekutif muda yang menyukai teknologi. Sekitar 6 bulan lalu dia telah membeli Smartphone berharga 4 jutaan. Dengan maraknya pengguna Blackberry belakangan ini, sang eksekutif muda pun tergoda dan menghabiskan lebih dari setengah gaji bulanannya untuk memenuhi keinginan tersebut. Dengan mainan baru tersebut, dia bisa chatting kapan saja, melakukan update statusnya di situs Facebook, sampai menerima email secara instan. Dengan pembelian Blackberry tersebut, sang eksekutif muda kesulitan untuk membiayai pengeluarannya pada bulan berjalan termasuk membantu membayarkan uang kuliah adiknya yang selama ini dia lakukan.
Dari kedua contoh di atas kita akan melihat apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan dan apa yang merupakan keinginan belaka.
Pada contoh pertama yakni pembelian TV LCD, keluarga tersebut membutuhkan TV untuk menonton berita sekaligus hiburan keluarga. Kebutuhan tersebut sebenarnya terpenuhi karena TV lama yang dimiliki berukuran cukup besar yakni 29 inch dan seluruh anggota keluarga cukup puas menggunakannya. Akan tetapi muncul keinginan untuk mengganti dengan LCD TV agar ruang keluarga terlihat lebih elegan dan mewah. Meskipun sebenarnya lebar layar yang ditawarkan tidak jauh berbeda dari TV yang lama. Layar LCD memang terlihat lebih menarik, namun sebenarnya secara total tidak memberi perbedaan signifikan bagi keluarga tersebut.
Pada contoh yang pertama ini, keluarga tersebut telah mengorbankan kepentingan dan kebutuhan yang lebih utama yakni pendidikan anak. Dengan pembelian tersebut, mereka harus membayar cicilan yang lumayan setiap bulannya sehingga sedikit mengganggu pengeluaran rutin bulanan termasuk membayar uang sekolah anak yang juga cukup mahal. Keluarga ini telah mengubah keinginan menjadi kebutuhan dan sebaliknya kebutuhan digeser pada urutan yang lebih bawah.
Sekarang kita lihat contoh kedua. Eksekutif muda yang satu ini sebenarnya sudah cukup puas dengan Smartphone-nya. Meskipun tidak secanggih Blackberry, namun device yang lama juga memiliki kemampuan untuk akses internet. Adapun email memang tidak bisa diakses instan namun masih bisa disinkronkan dari komputer sehingga bisa dibaca dalam perjalanan.
Pada contoh kedua, yang menjadi kebutuhan adalah alat komunikasi, terutama suara dan sms. Kebutuhan internet sebenarnya sudah lebih dari cukup terpenuhi dari komputer yang ada. Namun keinginan akan alat yang baru karena banyak orang memakainya membuat gengsi sang eksekutif muda terpancing. Dia pun mengorbankan kebutuhan lain yang lebih penting demi menyalurkan hasrat menginginkan sesuatu.
Jika kita berhenti sejenak dan berpikir, maka Anda bisa mempertimbangkan keputusan pembelian dengan lebih jernih. Anda akan berpikir bahwa di rumah masih ada 3 tas bagus yang jarang dipakai. Tas yang baru dilihat inipun mungkin hanya akan terpakai beberapa kali. Kalau dibeli, harganya cukup mahal sementara kegunaannya terbatas. Untuk memenuhi gengsi mungkin terlihat diperlukan tapi secara fungsi sebenarnya tidak ada yang berbeda.
Lantas, apakah setiap keinginan selalu tidak baik dan tidak boleh dipenuhi? Jawabannya adalah tergantung kondisi dan kemampuan Anda saat itu. Jika Anda memiliki banyak uang, membeli barang yang mahal dan memiliki prestise tentu sah-sah saja asalkan bukan dengan niat menyombongkan diri. Sebaliknya jika penghasilan Anda masih terbatas tapi memaksakan, maka di sinilah letak permasalahannya. Orang yang memiliki uang banyak sekalipun bukan berarti bisa memenuhi apa yang diinginkannya. Prinsip utama adalah pengendalian diri, pengendalian keinginan, dan menilai secara bijak apa yang perlu dipenuhi dan apa yang tidak. Dengan demikian Anda menjadi pengambil keputusan yang bijaksana.
Mengenali Perbedaan Antara Keinginan dan Kebutuhan
Apa yang Anda inginkan tidak selalu Anda butuhkan. Perbedaan antara keinginan (wants) dan kebutuhan (needs) penting untuk dikenali agar kita tidak jatuh ke dalam hidup konsumtif dan suka membeli sesuatu tanpa rencana (impulse buying). Dalam kehidupan modern ini, seringkali batas antara keinginan dan kebutuhan menjadi kabur. Berbagai iklan, informasi, rekomendasi dan lain-lain mengubah cara pandang akan sesuatu. Hal yang tadinya dianggap keinginan mewah, perlahan berubah menjadi keinginan yang wajar sampai akhirnya berubah menjadi sebuah kebutuhan.Ketika ini terjadi, tak jarang kebutuhan yang lebih utama dan penting malah mendapat prioritas belakangan.Kebutuhan adalah fungsi dasar atas sesuatu yang secara esensial diperlukan: makan untuk memenuhi nutrisi, tempat tinggal untuk istirahat, transportasi untuk bekerja, pendidikan untuk masa depan anak dan lain-lain.
Sedangkan keinginan adalah semua fungsi tambahan yang jika tidak ada sebenarnya tidak mengganggu hidup Anda akan tetapi Anda mengharapkan untuk bisa mendapatkan fungsi tambahan tersebut. Makanan yang mahal, rumah yang besar dan mewah, mobil baru dan mengkilat, dan seterusnya. Keinginan seringkali merupakan perwujudan untuk menegaskan status sosial seseorang sekaligus membuktikan kepada orang lain bahwa dia mampu memilikinya.
Keinginan yang Mengalahkan Kebutuhan
Apakah sebuah keinginan tidak boleh dipenuhi? Menurut pendapat saya boleh-boleh saja asalkan semua kebutuhan yang penting telah mendapat perhatian. Jangan sampai sebuah keinginan yang remeh temeh menggeser kebutuhan yang lebih penting dan esensial.Sebagai contoh, ada keluarga yang rela mengambil kredit untuk membeli sebuah TV LCD baru berharga di atas 10 juta rupiah. Padahal sebelumnya keluarga tersebut masih memiliki TV yang cukup baik dan besar meskipun sudah berumur beberapa tahun. Dengan pembelian TV baru tadi mau tidak mau mengganggu pengeluaran rutin keluarga tersebut sampai-sampai uang sekolah anak harus menunggak karena tagihan kredit yang jatuh tempo.
Contoh lain adalah seorang eksekutif muda yang menyukai teknologi. Sekitar 6 bulan lalu dia telah membeli Smartphone berharga 4 jutaan. Dengan maraknya pengguna Blackberry belakangan ini, sang eksekutif muda pun tergoda dan menghabiskan lebih dari setengah gaji bulanannya untuk memenuhi keinginan tersebut. Dengan mainan baru tersebut, dia bisa chatting kapan saja, melakukan update statusnya di situs Facebook, sampai menerima email secara instan. Dengan pembelian Blackberry tersebut, sang eksekutif muda kesulitan untuk membiayai pengeluarannya pada bulan berjalan termasuk membantu membayarkan uang kuliah adiknya yang selama ini dia lakukan.
Dari kedua contoh di atas kita akan melihat apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan dan apa yang merupakan keinginan belaka.
Pada contoh pertama yakni pembelian TV LCD, keluarga tersebut membutuhkan TV untuk menonton berita sekaligus hiburan keluarga. Kebutuhan tersebut sebenarnya terpenuhi karena TV lama yang dimiliki berukuran cukup besar yakni 29 inch dan seluruh anggota keluarga cukup puas menggunakannya. Akan tetapi muncul keinginan untuk mengganti dengan LCD TV agar ruang keluarga terlihat lebih elegan dan mewah. Meskipun sebenarnya lebar layar yang ditawarkan tidak jauh berbeda dari TV yang lama. Layar LCD memang terlihat lebih menarik, namun sebenarnya secara total tidak memberi perbedaan signifikan bagi keluarga tersebut.
Pada contoh yang pertama ini, keluarga tersebut telah mengorbankan kepentingan dan kebutuhan yang lebih utama yakni pendidikan anak. Dengan pembelian tersebut, mereka harus membayar cicilan yang lumayan setiap bulannya sehingga sedikit mengganggu pengeluaran rutin bulanan termasuk membayar uang sekolah anak yang juga cukup mahal. Keluarga ini telah mengubah keinginan menjadi kebutuhan dan sebaliknya kebutuhan digeser pada urutan yang lebih bawah.
Sekarang kita lihat contoh kedua. Eksekutif muda yang satu ini sebenarnya sudah cukup puas dengan Smartphone-nya. Meskipun tidak secanggih Blackberry, namun device yang lama juga memiliki kemampuan untuk akses internet. Adapun email memang tidak bisa diakses instan namun masih bisa disinkronkan dari komputer sehingga bisa dibaca dalam perjalanan.
Pada contoh kedua, yang menjadi kebutuhan adalah alat komunikasi, terutama suara dan sms. Kebutuhan internet sebenarnya sudah lebih dari cukup terpenuhi dari komputer yang ada. Namun keinginan akan alat yang baru karena banyak orang memakainya membuat gengsi sang eksekutif muda terpancing. Dia pun mengorbankan kebutuhan lain yang lebih penting demi menyalurkan hasrat menginginkan sesuatu.
Mengelola Keinginan
Ketika seseorang menginginkan sesuatu, seringkali aspek emosional lebih mendominasi daripada aspek rasional. Bayangkan ketika Anda berjalan-jalan ke mall kemudian melihat tas yang bagus. Anda sangat ingin memilikinya karena tas tersebut akan match dengan gaya Anda sekaligus dapat ditunjukkan kepada rekan-rekan waktu pertemuan bersama minggu depan. Aspek emosional yang muncul adalah hasrat kuat untuk memiliki sehingga seolah-olah menjadi kebutuhan.Jika kita berhenti sejenak dan berpikir, maka Anda bisa mempertimbangkan keputusan pembelian dengan lebih jernih. Anda akan berpikir bahwa di rumah masih ada 3 tas bagus yang jarang dipakai. Tas yang baru dilihat inipun mungkin hanya akan terpakai beberapa kali. Kalau dibeli, harganya cukup mahal sementara kegunaannya terbatas. Untuk memenuhi gengsi mungkin terlihat diperlukan tapi secara fungsi sebenarnya tidak ada yang berbeda.
Lantas, apakah setiap keinginan selalu tidak baik dan tidak boleh dipenuhi? Jawabannya adalah tergantung kondisi dan kemampuan Anda saat itu. Jika Anda memiliki banyak uang, membeli barang yang mahal dan memiliki prestise tentu sah-sah saja asalkan bukan dengan niat menyombongkan diri. Sebaliknya jika penghasilan Anda masih terbatas tapi memaksakan, maka di sinilah letak permasalahannya. Orang yang memiliki uang banyak sekalipun bukan berarti bisa memenuhi apa yang diinginkannya. Prinsip utama adalah pengendalian diri, pengendalian keinginan, dan menilai secara bijak apa yang perlu dipenuhi dan apa yang tidak. Dengan demikian Anda menjadi pengambil keputusan yang bijaksana.
Tips Mengelola Keinginan dan Kebutuhan
Berikut adalah tips sederhana yang dapat Anda pakai untuk mengelola segala keinginan dan kebutuhan dengan lebih baik:- Susun segala kebutuhan Anda
- Prioritaskan kebutuhan tersebut dan pastikan terpenuhi lebih dahulu
- Tentukan beberapa hal yang menjadi keinginan Anda
- Tanyakan kepada diri Anda seberapa besar Anda membutuhkan dan mengharapkan keinginan-keinginan tadi dan buat skala prioritas
- Jika Anda memiliki kelebihan dana, silakan lihat daftar keinginan yang mungkin dipenuhi setelah memastikan kebutuhan penting telah terpenuhi. Tanyakan pula pada diri Anda apakah kelebihan dana tersebut pantas digunakan untuk memenuhi keinginan atau ada tempat lain yang lebih membutuhkan dan lebih berhak atas kelebihan tersebut.
- Jika Anda tidak memiliki kelebihan dana, hindari melihat benda-benda yang bisa menciptakan munculnya keinginan karena akan menjadi obsesi.
- Jika Anda terlanjur tertarik dan memiliki keinginan untuk membeli sesuatu, hindari untuk membeli langsung pada saat itu. Netralkan emosi dan perasaan Anda dan biarkan aspek rasional Anda mengimbangi. Nanti setelah pertimbangan Anda sudah lebih wajar dan adil, Anda dapat memutuskan apakah barang yang menarik hati tadi perlu untuk dibeli atau tidak.
PROBLEMATIKA KEPRIBADIAN DAN GAYA HIDUP REMAJA DI ERA GLOBALISASI
Akhir-akhir ini banyak sekali berbagai
penyimpangan moral yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia.
Contohnya seperti tawuran antar pelajar, perkelahian antar genk,
perilaku seks bebas & narkoba , dan gaya hidup tidak beraturan. Di
kalangan pejabat, korupsi masih merupakan persoalan yang sangat
mengerikan di Indonesia. Masyarakat secara umum pada akhirnya kehilangan
rujukan keteladanan, sehingga krisis moral semakin meluas.
Pertama
saya akan membahas tentang perkelahian antar genk. Di kalangan generasi
muda, mucul fenomena genk. Hampir semua SMA di Jakarta memiliki genk.
Alasan mendirikan genk tersebut pada intinya sama yaitu membentuk
solidaritas untuk tawuran dengan sekolah lain. Misalnya di kalangan
sebuah siswa SMA di Bawean terdapat genk sekolah yang sudah tradisi
terbentuk setiap angkatan. Anggotanya adalah mayoritas angkatan itu.
Contohnya adalah genk “Neko-neko Dikeroyok” (NERO) adalah salah satu
genk remaja putri di Jawa Tengah yang cukup populer. Anggota genk Nero
sering melakukan penganiayaan terhadap remaja putri SMP dengan alasan
mereka tidak suka kalau ada perempuan lain yang melebihi apa yang mereka
miliki, misalnya terkait pakaian, gaya rambut atau penampilan lainnya.
Parahnya, penganiayaan tersebut mereka rekam melalui video HP kemudian
mereka sebarkan.
Yang
kedua saya akan membahas tentang gaya hidup tidak beraturan. Gaya hidup
masyarakat di Indonesia sangat memperhatikan. Hal ini disebabkan oleh
pola pikir masyarakat kota besar yang menghendaki kehidupan yang
sebebas-bebasnya sehingga budaya-budaya asing yang tidak sesuai dengan
kebudayaan kita mudah masuk dan berkembang dengan cepat Norma-norma
kesusilaan dan kesopanan sudah tidak menjadi tolok ukur kepribadian
masing-masing.
Dan
yang ketiga saya akan membahas tentang narkoba dan seks bebas.
Berbicara mengenai moral dan mental generasi muda pasti tidak lepas dari
lingkungan yang menjadi tempat bagi mereka bersosialisasi. Dampak
negatif yang langsung berkaitan dengan generasi muda yang sangat
berbahaya, yaitu narkoba dan seks bebas. Narkoba mudah masuk pada
generasi muda karena generasi muda sekarang susah diatur dan jiwa labil.
Mereka cenderung dibuat-buat dengan alasan mengikuti tren yang ada.
Bahayanya justru tren yang mereka ikuti itu merupakan tren yang banyak
mengarah pada pemakaian narkoba. Penyebabnya, mereka seolah-olah
memiliki banyak masalah dan akhirnya lari pada narkoba, yang sebetulnya
mereka sendiri yang secara sadar maupun tidak sadar menciptakan masalah
itu sendiri.
Hal
yang tidak lepas dari kehidupan narkoba, yaitu seks bebas.
Contoh-contoh yang menyebabkan hal berikut adalah sebagai berikut :
1. Media cetak pada era sekarang ini mempertontonkan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di masyarakat.
2. Komik yang banyak dibaca anak-anak sudah dimasukin unsur-unsur pornografi.
3. lkIan di media elektronik mengandung unsur pornografi untuk menarik perhatian konsumen.
4. Maraknya peredaran VCD
5. Penyalahgunaan internet oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab
6. Dan masih banyak lagi.
Penanggulangan dari masalah ini adalah :
1. Generasi itu sendiri dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan
2. Orangtua agar lebih fokus memperhatikan anak-anaknya agar memiliki mental yang baik.
3. Aparat keamanan sebaiknya bisa menindak oknum-oknum yang berkaitan dengan masalah tersebut.
4. Meningkatkan kualitas pendidikan terutama di sekolah
SUMBER: http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1020
SUMBER: http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=1020
Budaya Konsumtif , Manusia sebagai Konsumen Sejati. Benarkah ?
Budaya urban kini telah melekat erat pada kehidupan di kota-kota besar
di Indonesia. Gaya kehidupan yang sebelumnya tidak disebut sebagai
budaya, namun telah merambah ke semua kalangan masyarakat yang tengah
menjalani kehidupan di kota. Kota tak lagi berbudaya nenek moyang kita.
Adat-istiadat seperti tata karma yang dulu dijaga oleh generasi
pendahulu kian hari luntur oleh budaya-budaya baru yang memengaruhi
kehidupan sehari-hari. Identitas sebagai masyarakat yang berbudaya
bangsa Indonesia tidak lagi terjaga.
Salah satu yang melekat pada budaya urban di kota adalah budaya konsumtif. Budaya konsumtif seakan tidak dapat lagi dihindari pada zaman yang serba modern dan canggih akan teknologi ini. Semua orang membutuhkan sesuatu lebih cepat dan mudah didapat. Yang mana, saat ini hal tersebut diistilahkan sebagai masyarakat pragmatis. Segalanya ingin lebih cepat dan mudah didapat ataupun dalam pengerjaannya. Yang lebih parah lagi, pada era ini manusia sudah seperti robot yang dikendalikan oleh teknologi.
Kali ini tidak akan jauh dari pembahasan budaya konsumtif yang melanda masyarakat sosial di dunia, terutama pada masyarakat urban. Budaya konsumtif yang dimaksud adalah manusia sebagai pelaku konsumsi terhadap suatu produk atau jasa yang memang dikemas sedemikian rupa oleh produsen untuk menarik minat konsumen. Dalam hal ini, konsumen menggunakan produk atau jasa tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan, namun juga karena keinginan semata yang belum tentu berguna nantinya.
Pada era industri, yang mana pada saat ini banyak orang yang ingin membuka lapangan usaha atau bahasa ilmiahnya sebagai entrepreuner, semakin membuat suatu fakta bahwa pada kenyataannya manusia ini adalah konsumen yang sejati. Tidak hanya pada kenyataan alam, manusia sebagai konsumen dari makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang lain, di mana tumbuhan sebagai produsen utama, karena mampu mengolah makanan sendiri, kini manusia juga sebagai konsumen pada siklus kehidupan yang dibuat oleh pasar industri.
Untuk menguatkan pernyataan tersebut, mari kita tengok fakta yang terjadi pada lingkungan sekitar kita.
Terdapatnya mall-mall sebagai pusat pembelanjaan di kehidupan kota, yang mana tiap harinya lebih dari seribu orang yang mengunjungi mall sebagai pelepas keinginan, entah ingin berbelanja, sekedar nonton film di bioskop, jalan-jalan, duduk-duduk dengan mengerjakan tugas, atau makan-makan saja. Hal ini semakin membuat fakta, bahwa mall sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat urban, yang mana sebelumnya hanya sebagai hiburan saja. Tapi kali ini, mall yang ada di Surabaya saja, yang entah berapa jumlahnya, tak pernah juga sepi akan pengunjung.
Fenomena yang tak kalah penting adalah semakin banyak industri jasa yang menawarkan kemudahan dalam melakukan aktivitas rumah tangga. Misalnya, semakin banyaknya jasa laundry yang kini tengah melanda masyarakat di kota. Contoh lain, jasa penitipan anak bagi ibu yang berkarir di luar rumah.
Fenomena lain terjadi di kampus penulis, di kantin fakultas yang selama ini menjadi tempat favorit sebagai penikmat kuliner. Saat ini kurang lebih ada 19 pedagang yang berjualan di sebuah fakultas yang tidak terlalu besar, daya beli pun juga tinggi, tidak hanya dari fakultas tersebut, tapi juga dari fakultas lain. Padahal. di tiap fakultas telah difasilitasi kantin sendiri. Lebih dari seribu mahasiswa dan masyarakat kampus yang berkunjung di kantin tersebut. Karena semakin bervariasi makanan, semakin membuat pembeli tertarik.
Saat ini budaya konsumtif tidak hanya melanda pada masyarakat menengah ke atas, namun juga pada kalangan masyarakat menengah ke bawah. Karena indutri telah mendesain produk biasa atau mengimitasi dari produk-produk yang bermerk. Misalnya, pada HP Blackberry yang diketahui merupakan HP canggih dengan fitur lengkap dan harga tinggi, kini telah beredar banyak imitasi serupa HP Blackberry yang didesain oleh pengusaha dari China dengan harga yang miring dari harga Blackberry aslinya. Dan luar biasa, meski tiruan, penjualan produk tersebut sangat laris di pasaran.
Hal lain yang perlu kita koreksi pada diri sendiri, apakah kita membeli produk berdasarkan kebutuhan, ataukah hanya keinginan untuk membeli, atau kita hanya membeli merk yang ditawarkan suatu produk?
Fenomena-fenomena di atas tidak bisa lepas dari kehidupan di kota. Karena semakin meningkatnya kebutuhan, semakin meningkat pula produk yang ditawarkan. Sebagai konsumen yang baik, ukurlah suatu produk berdasarkan nilai kebutuhan, kegunaan, dan estetikanya. Jangan hanya membeli karena keinginan, gaya hidup
semata.
sumber:
http://pesma.sdm-iptek.org/berita/news_detail.php?id=30
Salah satu yang melekat pada budaya urban di kota adalah budaya konsumtif. Budaya konsumtif seakan tidak dapat lagi dihindari pada zaman yang serba modern dan canggih akan teknologi ini. Semua orang membutuhkan sesuatu lebih cepat dan mudah didapat. Yang mana, saat ini hal tersebut diistilahkan sebagai masyarakat pragmatis. Segalanya ingin lebih cepat dan mudah didapat ataupun dalam pengerjaannya. Yang lebih parah lagi, pada era ini manusia sudah seperti robot yang dikendalikan oleh teknologi.
Kali ini tidak akan jauh dari pembahasan budaya konsumtif yang melanda masyarakat sosial di dunia, terutama pada masyarakat urban. Budaya konsumtif yang dimaksud adalah manusia sebagai pelaku konsumsi terhadap suatu produk atau jasa yang memang dikemas sedemikian rupa oleh produsen untuk menarik minat konsumen. Dalam hal ini, konsumen menggunakan produk atau jasa tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan, namun juga karena keinginan semata yang belum tentu berguna nantinya.
Pada era industri, yang mana pada saat ini banyak orang yang ingin membuka lapangan usaha atau bahasa ilmiahnya sebagai entrepreuner, semakin membuat suatu fakta bahwa pada kenyataannya manusia ini adalah konsumen yang sejati. Tidak hanya pada kenyataan alam, manusia sebagai konsumen dari makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang lain, di mana tumbuhan sebagai produsen utama, karena mampu mengolah makanan sendiri, kini manusia juga sebagai konsumen pada siklus kehidupan yang dibuat oleh pasar industri.
Untuk menguatkan pernyataan tersebut, mari kita tengok fakta yang terjadi pada lingkungan sekitar kita.
Terdapatnya mall-mall sebagai pusat pembelanjaan di kehidupan kota, yang mana tiap harinya lebih dari seribu orang yang mengunjungi mall sebagai pelepas keinginan, entah ingin berbelanja, sekedar nonton film di bioskop, jalan-jalan, duduk-duduk dengan mengerjakan tugas, atau makan-makan saja. Hal ini semakin membuat fakta, bahwa mall sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat urban, yang mana sebelumnya hanya sebagai hiburan saja. Tapi kali ini, mall yang ada di Surabaya saja, yang entah berapa jumlahnya, tak pernah juga sepi akan pengunjung.
Fenomena yang tak kalah penting adalah semakin banyak industri jasa yang menawarkan kemudahan dalam melakukan aktivitas rumah tangga. Misalnya, semakin banyaknya jasa laundry yang kini tengah melanda masyarakat di kota. Contoh lain, jasa penitipan anak bagi ibu yang berkarir di luar rumah.
Fenomena lain terjadi di kampus penulis, di kantin fakultas yang selama ini menjadi tempat favorit sebagai penikmat kuliner. Saat ini kurang lebih ada 19 pedagang yang berjualan di sebuah fakultas yang tidak terlalu besar, daya beli pun juga tinggi, tidak hanya dari fakultas tersebut, tapi juga dari fakultas lain. Padahal. di tiap fakultas telah difasilitasi kantin sendiri. Lebih dari seribu mahasiswa dan masyarakat kampus yang berkunjung di kantin tersebut. Karena semakin bervariasi makanan, semakin membuat pembeli tertarik.
Saat ini budaya konsumtif tidak hanya melanda pada masyarakat menengah ke atas, namun juga pada kalangan masyarakat menengah ke bawah. Karena indutri telah mendesain produk biasa atau mengimitasi dari produk-produk yang bermerk. Misalnya, pada HP Blackberry yang diketahui merupakan HP canggih dengan fitur lengkap dan harga tinggi, kini telah beredar banyak imitasi serupa HP Blackberry yang didesain oleh pengusaha dari China dengan harga yang miring dari harga Blackberry aslinya. Dan luar biasa, meski tiruan, penjualan produk tersebut sangat laris di pasaran.
Hal lain yang perlu kita koreksi pada diri sendiri, apakah kita membeli produk berdasarkan kebutuhan, ataukah hanya keinginan untuk membeli, atau kita hanya membeli merk yang ditawarkan suatu produk?
Fenomena-fenomena di atas tidak bisa lepas dari kehidupan di kota. Karena semakin meningkatnya kebutuhan, semakin meningkat pula produk yang ditawarkan. Sebagai konsumen yang baik, ukurlah suatu produk berdasarkan nilai kebutuhan, kegunaan, dan estetikanya. Jangan hanya membeli karena keinginan, gaya hidup
semata.
sumber:
http://pesma.sdm-iptek.org/berita/news_detail.php?id=30
PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA DALAM PERILAKU KONSUMEN
Keluarga
merupakan suatu kelompok terkecil yang terdiri dari dua, atau lebih orang yang
berhubungan darah dan tinggal pada satu tempat yang sama. Sedangkan rumah
tangga merupakan semua orang, baik yang berkerabat maupun yang tidak dan
menempati satu unit perumahan.
Tidak dapat
dipungkiri, kalau keberadaan keluarga dan rumah tangga mempunyai pengaruh yang
besar terhadap perilaku konsumen. Kebiasaan yang dilakukan, kepribadian, gaya
hidup yang terbentuk dalam lingkungan keluarga dan rumah tangga, membuat terbentuknya
suatu perilaku. Ada keadaan keluarga atau rumah tangga yang dengan mudah apa
yang menjadi kebutuhannya dan didapatkan, tetapi ada juga yang membutuhkannya
tetapi tidak diimbangi dengan daya kemampuan, yang membuatnya lebih
memperjuangkan atau memprioritaskan apa yang menjadi kebutuhan terpentingnya
saat itu.
Rumah tangga
menjadi unit analisis yang lebih penting bagi pemasar karena pertumbuhan yang
pesat di dalam keluarga tradisional dan rumah tangga nonkeluarga. Di antara
rumah tangga nonkeluarga, mayoritas besar terdiri dari orang-orang yang hidup
sendiri. Oleh sebab itu, para pemasar tidak hanya berpikir tentang
keluarga, kategori rumah tangga yang terbesar, tetapi juga rumah tangga
nonkeluarga, yang berkembang lebih cepat.
Variabel
yang mempengaruhi pembelian dalam keluarga atau rumah tangga yaitu usia kepala
rumah tangga atau keluarga, status perkawianan, kehadiran anak dan status
pekerjaan.
Pengaruh
keluarga dan rumah tangga terhadap perilaku konsumen tidak kalah pentingnya
diperhatikan disamping pengaruh individu. Keluarga sama seperti perusahaan,
keluarga merupakan organisasi yang terbentuk guna mencapai fungsi yang lebih
efektif dibandingkan individu yang hidup sendiri. Walaupun analisis konsumen
mungkin tidak mempunyai pendapat mengenai apakah keluarga harus mempunyai anak
atau tidak. Konsekuensi ekonomi dengan hadirnya anak menciptakan struktur
permintaan akan pakaian, makanan, perabotan rumah, perawatan kesehatan, pendidikan
dan produk lain. Anak di dalam keluarga dapat menyebabkan menurunnya permintaan
akan produk lain, seperti perjalanan, restoran, pakaian orang dewasa dan
lainnya.
Dalam
hal sosiologis juga, pemasar melakukan suatu analisis. Bagaimana keluarga
mengambil keputusan dapat dimengerti dengan lebih baik dengan mempertimbangkan
dimensi sosiologis seperti kohesi, kemampuan beradaptasi dan komunikasi. Kohesi
itu sendiri adalah ukuran seberapa dekat dan terkait yang dirasakan antara para
anggota keluarga tersebut dari segi emosional. Kemampuan beradaptasi
dimaksudkan mengenai seberapa baik keluarga dapat memenuhi tantangan yang
disajikan dengan kebutuhan yang berubah, dan keterampilan berkomunikasi yang
positif memungkinkan keluarga untuk berbagi satu sama lain kebutuhan dna
preferensi mereka yang berubah sebagaimana berhubungan dnegan kohesi dan
kemampuan beradaptasi.
Keluarga
merupakan suatu pusat pembelian yang merefleksikan kegiatan dan pengaruh
individu yang membentuk keluarga bersangkutan. Individu membeli produk untuk
dipakai sendiri dan untuk dipakai oleh anggota keluarga yang lain.
Sumber:
PENGARUH INDIVIDU
Pengaruh
Individu adalah tenaga pendorong dalam diri individu yang memaksa
mereka untuk bertindak . tenaga pendorong tersebut dihasilkan oleh
keadaan tertekan, yang timbul sebagai akibat kebutuhan yang tidak
terpenuhi. Individu secara sadar maupun tanpa sadar berjuang mengurangi
melalui prilaku yang mereka harapankan akan memenuhi kebutuhan mereka
dan demikian akan membebaskan mereka dari tekanan yang mereka rasakan.
Kebutuhan
Setiap
orang mempunyai berbagai kebutuhan : beberapa darinya adalah kebutuhan
sejak lahir yang lain adalah yang diperoleh kemudian. Kebutuhan dasar
bersifat fisiologis meliputi kebutuhan makan, minum, air, udara,
pakaian semua itu dibutuhkan untuk meneruskan kehidupan biologis.
Kebutuhan perolehan adalah
kebutuhan yang kita pelajari sebagai jawaban terhadap kebudayaan atau
lingkungan kita. Ini dapat mencakup kebutuhan untuk memperoleh
penghargaan diri, martabat, kasing saying, kekuasaan karena kebutuhan
perolehan biasanya bersifat psikologis.
Sasaran
Sasaran dalah hasil yang diinginkan dari prilaku yang didorong oleh pengaruh individu, semua perilaku berorentasi pada sasaran.
Sasaran umum- yaitu, kelas atau
kategori sasaran umum yang dipandang konsumen sebagai cara untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Jika seseorang mengatakan kepada orangtua nya
bahwa ia ingin memperoleh gelar sarjana, ia sudah menyatakan sasaran
umum.
Pengaruh Positif Dan Negatif
Arah
pengaruh dapat positif atau negative. Kita dapat mersakan adanya
tenaga pendorong kea rah atau menjauhi/ menghindar obyek atau keadaan
tertentu. Sebagai contoh seseorang mungkin terdorong pergi ke restoran
tertentu karena kebutuhan akan lapar, dan meninggalkan alat angkutan
sepeda motor untuk memenuhi kebutuhan keselamatan.
Sasaran
juga dapat positif atau negative. Sasaran positif adalah sasaran yang
menjadi arah bagi perilaku: jadi sasaran sering disebut obyek yang
didekati. Sasaran negatif adalah sasaran yang dihindario oleh perilaku,
dan disebut obyek yang dijauhi.
Motif Rasional Versus Emosional
Beberapa
pakar perilaku konsumen membedakan antara apa yang dinamakan Motif
Rasional dan Motif Emosional. Mereka menggunakan istilah rasionalitas
dalam pengertian ekonomi tradisional, yang menganggap bahwa para
konsumen berprilaku rasional jika mereka secara teliti mempertimbangkan
semua alternative dan memilih alternative yang memberikan kegunaan yang
terbesar kepada mereka.
Asumsi
yang mendasari perbedaan ini adalah bahwa criteria subyektif atau
emosional tidak memaksimumkan kegunaan atau kepuasaan. Tetapi, masuk
akal jika diasumsikan bahwa para konsumen selalu berusaha memilih
berbagai alternative yang, menurut pandangan mereka, membantu
memaksimumkan kepuasan. Jelas, penilaian kepuasan merupakan proses yang
sangat pribadi, yang didasarkan pada struktur kebutuhan orang itu
sendiri, maupun pada pengalaman perilaku dan social diwaktu yang lalu.
Kebutuhan dan sasaran berbeda-beda Antar-Individu
Orang
tidak dapat menyimpulkan dengan tepat berbagai motif dari perilaku.
Orang – orang yang mempunyai kebutuhan yang berbeda mungkin mengusahakan
pemenuhan dengan cara memilih sasaran yang sama : orang – orang dengan
sasaran yang sama mungkin mencari pemenuhan melalui sasaran yang
berbeda .
Demikian
pula, kelima orang itu mungkin didorong oleh kebutuhan yang sama
(misalnya, Kebutuhan ego) untuk mengusahakan pemenuhan dengan berbagai
cara. Yang pertama mungkin untuk mencari kemajuan dan pengakuan melalui
karier professional : yang kedua mungkin aktif dalam organisasi
politik: yang ketiga mungkin ikut dalam pertandingan marathon boston:
yang keempat mungkin mengambil pelajaran dansa professional: dan yang
kelima mungkin mencari perhatian dengan memonopoli diskusi di kelas.
Sumber : WWW. Prenhall.com/schiffman
Perilaku Konsumen Edisi ketujuh Leon Schiffma
Pengaruh Situasi
PENGARUH SITUASI KONSUMEN
Pengaruh
Situasi dapat dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang
khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari
karakteristik konsumen dan karakteristik obyek (Engel, et.al ,1994) .
Situasi Konsumen adalan faktor lingkungan sementara yang menyebabkan
suatu situasi dimana perilaku konsumen muncul pada waktu tertentu dan
tempat tertentu ( Mowen dan Minor 1998)
Pengaruh
situasi dapat dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang
khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari
karakteristik konsumen dan karakteristik obyek. Situasi konsumen adalah
faktor lingkungan sementara yang menyebabkan suatu situasi dimana
perilaku konsumen muncul pada waktu tertentu dan tempat tertentu.
A. Jenis-jenis situasi konsumen
1. SITUASI KOMUNIKASI
Situasi Komunikasi adalah suasana atau lingkungan dimana konsumen memperoleh informasi atau melakukan komunikasi
Konsumen mungkin memperoleh informasi melalui :
1) Komunikasi Lisan dengan teman, kerabat, tenaga penjual, atau wiraniaga
2 )Komunikasi non pribadi, seperti iklan TV, radio, internet, koran, majalah,
poster, billboard, brosur, leaflet dsb
3) Informasi diperoleh langsung dari toko melalui promos penjualan, pengumuman di rak dan di depan took
1. SITUASI KOMUNIKASI
Situasi Komunikasi adalah suasana atau lingkungan dimana konsumen memperoleh informasi atau melakukan komunikasi
Konsumen mungkin memperoleh informasi melalui :
1) Komunikasi Lisan dengan teman, kerabat, tenaga penjual, atau wiraniaga
2 )Komunikasi non pribadi, seperti iklan TV, radio, internet, koran, majalah,
poster, billboard, brosur, leaflet dsb
3) Informasi diperoleh langsung dari toko melalui promos penjualan, pengumuman di rak dan di depan took
2. SITUASI PEMBELIAN
Situasi Pembelian adalah lingkungan atau suasana yang dialami/dihadapi konsumen ketika membeli produk dan jasa. Situasi pembelian akan mempengaruhi pembelian Misal: Ketika Konsumen berada di bandara, ia mungkin akan bersedia membayar sekaleng Coke berapa saja harganya ketika haus. Sebaliknya, jika ia berbelanja Coke di swalayan dan mendapatkan harganya relatif lebih mahal, ia mungkin sangat sensitif terhadap harga. Konsumen tsb mungkin akan menunda pembelian Coke dan mencari di tempat lain
Situasi Pembelian adalah lingkungan atau suasana yang dialami/dihadapi konsumen ketika membeli produk dan jasa. Situasi pembelian akan mempengaruhi pembelian Misal: Ketika Konsumen berada di bandara, ia mungkin akan bersedia membayar sekaleng Coke berapa saja harganya ketika haus. Sebaliknya, jika ia berbelanja Coke di swalayan dan mendapatkan harganya relatif lebih mahal, ia mungkin sangat sensitif terhadap harga. Konsumen tsb mungkin akan menunda pembelian Coke dan mencari di tempat lain
3. SITUASI PEMAKAIAN
Situasi Pemakaian disebut juga situasi penggunaan produk dan jasa merupakan situasi atau suasana ketika konsumsi terjadi. Konsumen seringkali memilih suatu produk karena pertimbangan dari situasi konsumsi. Misal: Konsumen Muslim sering memakai kopiah dan pakaian takwa pada saat sholat atau pada acara keagamaan. Kebaya akan dipakai kaum wanita pada acara pernikahan atau acara resmi lainya, dan jarang digunakan untuk pergi bekerja Para Produsen sering menggunakan konsep situasi pemakaian dalam memasarkan produknya, produk sering diposisikan sebagai produk untuk digunakan pada situasi pemakaian tertentu. Misalnya, ada pakaian resmi untuk ke pesta, pakaian olahraga, pakaian untuk kerja, pakaian untuk santai dan berolahraga
Situasi Pemakaian disebut juga situasi penggunaan produk dan jasa merupakan situasi atau suasana ketika konsumsi terjadi. Konsumen seringkali memilih suatu produk karena pertimbangan dari situasi konsumsi. Misal: Konsumen Muslim sering memakai kopiah dan pakaian takwa pada saat sholat atau pada acara keagamaan. Kebaya akan dipakai kaum wanita pada acara pernikahan atau acara resmi lainya, dan jarang digunakan untuk pergi bekerja Para Produsen sering menggunakan konsep situasi pemakaian dalam memasarkan produknya, produk sering diposisikan sebagai produk untuk digunakan pada situasi pemakaian tertentu. Misalnya, ada pakaian resmi untuk ke pesta, pakaian olahraga, pakaian untuk kerja, pakaian untuk santai dan berolahraga
B. Interaksi Orang-Situasi
Situasi pembelian mempunyai pengaruh yang nyata terhadap keputusan pembelian konsumen dengan gaya hidup believer. Hal ini menunjukkan bahwa situasi pembelian mampu
menghadirkan keinginan konsumen untuk membeli karena situasi ini bisa
menjadi stimulus terhadap keputusan konsumen untuk membeli.
Gaya hidup pembelian juga mempunyai pengaruh yang nyata terhadap
keputusan pembelian konsumen atas sesuatu. Konsumen dengan gaya
hidup believer ternyata juga mengikuti mode-mode pakaian khususnya misalnya celana
jeans sehingga gaya hidup mereka berpengaruh terhadap keputusan pembelian
yang dilakukan. Situasi pembelian dan gaya hidup terhadap mode bagi
konsumen dengan gaya hidup believer ternyata cukup tinggi mampu
mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dengan pengaruhnya sebesar 68%.
Situasi pembelian mempunyai pengaruh yang nyata terhadap keputusan pembelian konsumen dengan gaya hidup believer. Hal ini menunjukkan bahwa situasi pembelian mampu
menghadirkan keinginan konsumen untuk membeli karena situasi ini bisa
menjadi stimulus terhadap keputusan konsumen untuk membeli.
Gaya hidup pembelian juga mempunyai pengaruh yang nyata terhadap
keputusan pembelian konsumen atas sesuatu. Konsumen dengan gaya
hidup believer ternyata juga mengikuti mode-mode pakaian khususnya misalnya celana
jeans sehingga gaya hidup mereka berpengaruh terhadap keputusan pembelian
yang dilakukan. Situasi pembelian dan gaya hidup terhadap mode bagi
konsumen dengan gaya hidup believer ternyata cukup tinggi mampu
mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dengan pengaruhnya sebesar 68%.
C. Pengaruh Situasi Yang Tidak Terduga
Situasi tidak terduga dapat menjadi pemicu seseorang untuk membeli suatu barang. Misalnya mahasiswi yang akan mengikuti ujian dan lupa membawa bolpoin dan pensil, maka secara otomatis dia akan membeli dulu bolpoin dan pensil sebelum mengikuti ujian tersebut.
Situasi tidak terduga dapat menjadi pemicu seseorang untuk membeli suatu barang. Misalnya mahasiswi yang akan mengikuti ujian dan lupa membawa bolpoin dan pensil, maka secara otomatis dia akan membeli dulu bolpoin dan pensil sebelum mengikuti ujian tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)