1. Sumber Daya Ekonomi
Potensi sumberdaya ekonomi atau lebih dikenal dengan potensi ekonomi
pada dasarnya dapat diartikan sebagai sesuatu atau segala sesuatu
sumberdaya yang dimiliki baik yang tergolong pada sumberdaya alam
(natural resources/endowment factors) maupun potensi sumberdaya manusia
yang dapat memberikan manfaat (benefit) serta dapat digunakan sebagai
modal dasar pembangunan (ekonomi) wilayahtingkat ketergantungan terhadap
sumberdaya secara struktural harus bisa dialihkan pada sumberdaya alam
lain.
Kasus persolan yang sifatnya nasional (warisan rejim lama) dan juga
persoalan-persoalan baru yang muncul dari pelaksanaan Otonomi Daerah
yang “sembrono”, fenomena globalisasi ekonomi juga akan sangat
berpengaruh besar terhadap prospek nilai-nilai budaya lokal dan kearifan
tradisional sebagai landasan penguatan kelembagaan lokal dalam
pengelolaan sumberdaya dan keanekaragaman hayati. Globalisasi ini
menjadi perlu dicermati sebagai tahapan lanjut dari periode
pembangunanisme yang dianut oleh Rejim Otoriter-Militeristik Orde Baru
yang nyata-nyata telah menghancur-leburkan ekosistem-ekosistem penting
Indonesia serta memporak-porandakan pranata-pranata ada/lokal yang
selama ratusan tahun menjadi penjaga dan pengelola sebagian besar dari
ekosistem-ekosistem tersebut. Perjalanan pembangunan di Indonesia
mencatat banyak sekali penggusuran dan penindasan yang menyedihkan bagi
berbagai kelompok masyarakat, khususnya masyarakat adat, yang diwarnai
oleh tindakan-tindakan kekerasan negara dan sekaligus memfasilitasi
kekerasan horizontal antar kelompok masyarakat.
Kalau ditelusuri lebih jauh, maka pembangunan yang umumnya dianut
oleh negara-negara berkembang adalah industrialisasi. Sebagai negara
yang kaya sumber daya alam, Indonesia pun mengembangkan industri yang
berbasis sumber daya alam. Celakanya, sebagian besar sumber daya lalam
ini, secara tradisional sudah ada penguasa dan pemiliknya, yaitu
masyarakat adat, yang juga memiliki kepentingan yang lebih luas atas
sumber daya tersebut. Nilai-nilai, ide dan konsep pembangunan itu memang
diimpor atau diadopsi dari “barat”. Pembangunan adalah kata lain dari
modernisasi. Dari sini muncullah anggapan dan keyakinan baru di
masyarakat bahwa jiwa Indonesia ini kita inginkan menjadi negara
modren,maka segala sesuatu yang tradisional(lisan) harus dibuang karena
dianggap terbelakang dan menghambat pembangunan. Paradigma modernisasi
demikian, langsung dan tidak langsung, telah menyudutkan dan melemahkan
posisi masyarakat adat itu sendiri dengan menempatkan tradisi dan
nilai-nilai asli bangsa ini menjadi sesuatu yang jelek (inferior)
terhadap nilai-nilai “barat” yang modern sebagai sesuatu yang baik
(superior).
Dengan cara yang berkembang demikian, bahkan banyak di antara
masyarakat adat sendiri sering melupakan bahwa mereka memiliki kekuatan
(pengetahuan, teknologi, pranata adat) untuk melaksanakan dengan
sungguh-sungguh program “pembangunan” yang memuliakan hidup mereka, atau
sebaliknya melakukan perlawanan atas program “pembangunan” yang tidak
diinginkan. Sebagai konsep yang diadopsi dari “barat”, nilai yang
terkandung dalam pembangunan kita, yang juga dianut oleh globalisasi
ekonomi, berakar pada individualisme yang, dalam banyak hal,
bertolak-belakang dari prinsip dasar komunitas-komunitas masyarakat adat
di Indonesia umumnya yang komunalistik dan kolektif baik dalam hal
penguasaan sumberdaya maupun dalam upaya pengelolaannya untuk keadilan
dan kesejahteraan bersama.
2. Sumber Daya Sementara
a.Barang yang Menggunakan Waktu
Produk yang memerlukan pemakaian waktu dala mengkonsumsinya. Contoh:
Menonton TV, Memancing, Golf, Tennis (waktu Senggang) Tidur, perawatan
pribadi, pulang pergi (waktu wajib)
b.Barang Penghemat Waktu
Produk yang menghemat waktu memungkinkan konsumen meningkatkan waktu
leluasa mereka. Contoh: oven microwave, pemotong rumput, fast food.
3. Sumber Daya Kognitif
adalah kepemimpinan teori psikologi industri dan organisasi yang
dikembangkan oleh Fred Fiedler dan Joe Garcia pada tahun 1987 sebagai
konseptualisasi dari model kontingensi Fiedler . Teori ini berfokus pada
pengaruh pemimpin intelijen dan pengalaman tentang nya atau reaksinya
terhadap stres .
Inti dari teori ini adalah bahwa stres adalah musuh rasionalitas,
merusak kemampuan pemimpin untuk berpikir logis dan analitis. Namun,
pengalaman pemimpin dan kecerdasan dapat mengurangi pengaruh stres pada
(atau dia) nya tindakan: kecerdasan adalah faktor utama dalam situasi
stres rendah, sementara jumlah pengalaman selama lebih selama-saat
stres.
Contoh Kasus :
Psikologi kognitif menyatakan bahwa perilaku manusia tidak ditentukan
oleh stimulus yang berada dari luar dirinya, melainkan oleh faktor yang
ada pada dirinya sendiri. Faktor-faktor internal itu berupa kemampuan
atau potensi yang berfungsi untuk mengenal dunia luar, dan dengan
pengalaman itu manusia mampu memberikan respon terhadap stimulus.
Berdasarkan pandangan itu, teori psikologi kognitif memandang belajar
sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran,
untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Dengan
kata lain, aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses
internal dalam berfikir, yakni proses pengelolaan informasi.
Kegiatan pengelolaan informasi yang berlangsung di dalam kognisi itu
akan menentukan perubahan perilaku seseorang. Bukan sebaliknya jumlah
informasi atau stimulus yang mengubah perilaku. Demikian pula kinerja
seseorang yang diperoleh dari hasil belajar tidak tergantung pada jenis
dan cara pemberian stimulus, melainkan lebih ditentukan oleh sejauh mana
sesaeorang mampu mengelola informasi sehingga dapat disimpan dan
digunakan untuk merespon stimulus yang berada di sekelilingnya. Oleh
karena itu teori belajar kognitif menekankan pada cara-cara seseorang
menggunakan pikirannya untuk belajar, mengingat dan menggunakan
pengetahuan yang telah diperoleh dan disimpan di dalam pikirannya secara
efektif.
4. Pengetahuan Organisasi
Pengetahuan Konsumen akan Mempengaruhi Keputusan Pembelian.
Apa yang dibeli, berapa banyak yang dibeli, dimana membeli dan kapan
membeli akan tergantung kepada pengetahuan konsumen mengenai hal-hal
tersebut.
Pengetahuan Konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen
mengenai berbagai macam produk, serta pengetahuan lainnya yang terkait
dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen.
(1) Pengetahuan tentang karakteristik/atribut produk
(2) Pengetahuan tentang manfaat produk
(3) Pengetahuan tentang kepuasan yg diberikan produk kepada konsumen.
(1) Manfaat Fungsional, yaitu manfaat yg dirasakan konsumen secara fisiologis
(2) Manfaat Psikososial, yaitu aspek psikologis dan aspek sosial yang dirasakan konsumen setelah mengkonsumsi suatu produk.
Mengukur Pengetahuan
Pengetahuan konsumen terdiri dari informasi yang disimpan di dalam
ingatan. Pemasar khususnya tertarik untuk mengerti pengetahuan konsumen.
Informasi yang dipegang oleh konsumen mengenai produk akan sangat
mempengaruhi pola pembelian mereka.
Di dalam Psikologi kognitif dijelaskan bahwa ada dua jenis pengetahuan
dasar, yaitu pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural.
Pengetahuan deklaratif melibatkan fakta subjektif yang sudah diketahui.
Pengetahuan deklaratif sendiri dibagi menjadi dua kategori, yaitu
pengetahuan episodik (melibatkan pengetahuan yang dibatasi dengan
lintasan waktu) dan pengetahuan semantik (mengandung pengetahuan yang
digeneralisasikan dan memberi arti bagi dunia seseorang). Sedangkan
pengetahuan prosedural mengacu pada pengertian bagaimana fakta ini dapat
digunakan. Fakta ini juga bersifat subjektif dalam pengertian fakta
tersebut tidak perlu sesuai dengan realitas objektif.
Contoh Kasus:
Seorang konsumen yang sedang menjalankan proses diet dan ingin
memutuskan untuk membeli makanan ringan. Sebelum memutuskan untuk
melakukan pembelian, konsumen cenderung melihat ingredients atau
komposisi yang terdapat dalam produk makanan ringan tersebut. Setelah
memperoleh informasi yang positif terhadap produk tersebut, konsumen
biasanya langsung mengambil keputusan untuk melakukan pembelian.
Minggu, 06 Januari 2013
PERILAKU PEMBELIAN KONSUMEN
Pengambilan Keputusan Pembelian
Dalam pengambilan keputusan merupakan suatu proses kegiatan pembelian yang tampak hanyalah satu tahap dari keseluruhan proses pembelian konsumen.
Basu Swasta dan T. Hani Handoko, (1982, Hal. 103 ) proses pengambilan keputusan melalui lima tahap yaitu :
1. Menganalisis atau pengenalan kebutuhan dan keinginan.
Dalam penganalisaan kebutuhan dan keinginan suatu proses ditujukan untuk mengetahui adanya kebutuhan dan keinginan yang belum terpenuhi. Jika suatu kebutuhan diketahui, maka konsumen akan memahami adanya kebutuhan yang segera dipenuhi atau masih ditunda pemenuhannya. Tahap ini adalah proses pembelian mulai dilakukan.
2. Pencarian informasi dan penilaian sumber – sumber.
Pencarian informasi dapat bersifat aktif atau pasif, internal atau eksternal, pencarian informasi yang bersifat aktif dapat berupa kunjungan terhadap beberapa toko untuk membuat perbandingan harga dan kualitas produk, sedangkan pencarian informasi pasif hanya dengan membaca iklan di majalah atau surat kabar tanpa mempunyai tujuan khusus tentang gambaran produk yang diinginkan.
Pencarian informasi internal tentang sumber – sumber pembelian dapat berasal dari komunikasi perorangan dan pengaruh perorangan yang terutama berasal dari komunikasi perorangan dan pengaruh perorangan yang terutama berasal dari pelopor opini, sedangkan informasi eksternal berasal dari media masa dan sumber informasi dari kegiatan pemasaran perusahaan.
3. Penilaian dan seleksi terhadap alternatif pembelian.
Meliputi dua tahap yaitu menetapkan tujuan pembelian dan menilai serta mengadakan seleksi terhadap alternatif pembelian berdasarkan tujuan pembelian.
Tujuan pembelian bagi masing – masing konsumen tidak selalu sama, tergantung pada jenis produk dan kebutuhannya.
4. Keputusan untuk membeli.
Tahapan dalam proses pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen benar – benar membeli produk. Keputusan untuk membeli atau tidak produk yang ditawarkan. Keputusan untuk membeli yang diambil oleh pembeli sebenarnya merupakan kesimpulan dari sejumlah keputusan, misalnya : keputusan tentang jenis produk, bentuk produk, jumlah produk dan sebagainya. Apabila produk yang dihasilkan perusahaan sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan, maka produk tersebut mampu menarik minat untuk membeli. Bila konsumen dapat dipuaskan maka pembelian berikutnya akan membeli merk tersebut lagi dan lagi.
5. Perilaku sesudah pembelian.
Setelah melakukan pembelian produk, konsumen akan mengalami suatu tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Konsumen akan melakukan tindakan setelah kegiatan membeli dalam hal penggunaan produk tersebut sehingga harus diperhatikan oleh pemasar bahwa tugas pemasaran tidak berakhir ketika produk sudah dibeli tetapi terus sampai pada periode setelah pembelian.
Faktor Utama yang Mempengaruhi Perilaku Membeli
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian
1. Faktor Budaya
Faktor budaya memiliki pengaruh yang luas dan mendalam terhadap perilaku. Peran budaya, sub – budaya dan kelas sosial pembeli sangatlah penting.
Contoh :
Budaya populer bisa direpresentasikan dalam berbagai bentuk. iklan, musik, televisi, fashion misalnya dapat menjadi bentuk dari budaya populer. Kepopuleran model rambut Lady Diana tokoh dan disukai banyak wanita adalah salah satu contoh budaya populer dalam bentuk fashion. Sementara itu, televisi juga bisa merupakan bentuk dari budaya populer. Kata "wes ewes-ewes bablas angine" yang dikatakan oleh Basuki dalam sebuah iklan menjadi begitu populer dikalangan pemirsa televisi. Kata " wes ewes-ewes bablas angine' merupakan bentuk budaya populer yang disampaikan melalui televisi:
Selain iklan dan televisi sebagai bentuk yang bisa merepresentasikan budaya populer, musik juga bisa menjadi bentuk dari adanya budaya populer. Aliran musik Sheila merupakan aliran musik yang merepresentasikan budaya populer. Budaya populer juga bisa direpresentasikan dalam pakaian yang dikenakan oleh sekelompok orang dalam suatu masyarakat. Pakaian ketat dengan menonjolkan lekuk tubuh dan pinggang wanita merupakan budaya populer yang sekarang sedang marak dikalangan remaja putri Indonesia. Pada tahiin 60-an sampai 70-an rok mini merupakan budaya yang sangat populer pada saat itu.
a. Budaya
Budaya adalah penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar.
b. Sub - Budaya
Sub - budaya terdiri dari bangsa, agama, kelompok ras, dan daerah geografis. Banyak sub-budaya yang membentuk segmen pasar penting, dan pemasar sering merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
c. Kelas Sosial
Pada dasarnya semua masyarakat memiliki strata sosial. Strata tersebut kadang – kadang berbentuk sistem kasta dimana anggota kasta yang berbeda dibesarkan dengan peran tertentu dan tidak dapat mengubah keanggotaan kasta mereka. Kelas sosial menunjukan preferensi produk dan merek yang berbeda dalam banyak hal. Beberapa pemasar memusatkan usaha mereka pada satu kelas sosial.
2. Faktor Sosial
Sebagai tambahan atas faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor – faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status.
Kelompok Kelas Sosial
Kelas sosial dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Namun pada intinya kelas sosial itu berkisar antara kelas sosial atas sampai bawah. Untuk kepentingan pemasaran kelasa sosial itu dapat dibagi menjadi; kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Untuk suatu kajian yang lebih detail pembagian itu dapat lebih dipertajam, misalanya kelasa atas dibagi lagi menjadi kelas atas atas, atas menenggah dan atas bawah. Gambaran pembagiankelas sosial dapat dibuat sebagai berikut:
1. Kelas atas dicirikan dengan pendapatan besar, intelek, membeli barang yang bergengsi, ikut dalam klub bergengsi, suka perjalanan ke negara maju.
2. Kelas menengah dicirikan dengan kehidupan baik, membeli apa yang populer, membelajakan uang untuk hal-hal yang layak untuk dialami, memberikan perhatian tinggi pd rumah.
3. Kelas bawah dicirikan dengan sangat tergantung pd dukungan ekonomi dan emosional dr sanak keluarga, menginginkan kemudahan berkarya dan hiburan, bertahan dr cobaan dunia menuju “karunia Tuhan”.
Kelas Sosial dan Perilaku Pembelian
Kelas sosial dalam masyarakat menunjukkan status tertentu dalam masyarakat, kelas atas berarti statusnya dalam masyarakat adalah tinggi. Status membawa peran terntentu. Peran adalah seperangkat aharapa yang ditimpakan pada seseorang yang menduduki status tertentu. Di kampus status anda adalah mahasiswa maka anda harus berperilaku seperti mahasiswa, misalnya intelek, tidak kolokan, sensitif terhadap persoalan. Sedangkan ketika anda diruman status anda adalah anak, sebagai anak anda dapatm perperilaku merengek, manja, bermalas-malas, dans sebagainya, sebuahperilaku yang tidak selayaknya ketika status anda adalah mahasiswa. Disini kelihatan bahwa kelas sosial akan menentukan perilaku seseorang.
Dalam berperilaku, status sosial konsumen tturut memainkan pengaruh. Tindakan apa yang seharusnya dilakukan konsumen sangat ditentukan oleh status sosialnya. Berikut gambaran perbedaan peran yang dimainkan oleh konsumen dengan status sosial tinggi dan status sosial rendah. Perilaku Konsumen 74 Kelas Atas Kelas Bawah
1. Kebiasaan belanja
a. as a pleasure
b. mengunjungi toko yang memiliki image “high-fashion.
c. Lb banyak mencari informasi dr media masa.
d. Harga bk indikator kualitas
a. menyenangi barang masal dan toko diskon.
b. Memiliki informasi produk yang minim, bertindak berdasar display di toko & info wiraniaga, suka membeli produk “on sale”
2. Aktivitas waktu luang
a. aktivitas yang punya presrtise spt; tenis, golf, menghadiri kegiatan sosial, membaca, mengikuti organisai sosial.
b. Lb banyak membaca surat kabar, untuk acara TV menyukai olah raga dan drama terbaru.
a. lebih banyak melihat TV, memancing, sepak bola, angkat berat, dan dirumah.
b. Tidak banyak baca surat kabar, suka melihat opera sabun, quiz, dan komedi situasi.
3. Kepribadian
a. berfokus pada masa yad, punya keyakinan diri, berani mengambil risiko, memiliki pandangan yang luas.
b. Kepemilikan melambangkan “motivasi pribadi pemilik”.
a. berfokus pd masa kini dan masa lalu, pandangan yang terbatas, berorientasi pd diri dan keluarga.
b. Kepemilikan mrp “nasib baik”
a. Kelompok Acuan
Kelompok Acuan adalah seseorang terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung ( tatap muka ) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang.
Pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok acuan pelanggan mereka. Namun, tingkat pengaruh kelompok acuan terhadap produk dan merk adalah berbeda – beda. Kelompok acuan mempunyai pengaruh kuat atas pilihan produk dan pilihan merk.
b. Keluarga
Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan ia telah menjadi obyek penelitian yang ekstensif. Anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer yang paling berpengaruh.
c. Peran dan Status
Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Setiap peran memiliki status. Orang – orang memilih produk yang mengkonsumsikan peran dan status mereka dalam masyarakat.
Dalam pengambilan keputusan merupakan suatu proses kegiatan pembelian yang tampak hanyalah satu tahap dari keseluruhan proses pembelian konsumen.
Basu Swasta dan T. Hani Handoko, (1982, Hal. 103 ) proses pengambilan keputusan melalui lima tahap yaitu :
1. Menganalisis atau pengenalan kebutuhan dan keinginan.
Dalam penganalisaan kebutuhan dan keinginan suatu proses ditujukan untuk mengetahui adanya kebutuhan dan keinginan yang belum terpenuhi. Jika suatu kebutuhan diketahui, maka konsumen akan memahami adanya kebutuhan yang segera dipenuhi atau masih ditunda pemenuhannya. Tahap ini adalah proses pembelian mulai dilakukan.
2. Pencarian informasi dan penilaian sumber – sumber.
Pencarian informasi dapat bersifat aktif atau pasif, internal atau eksternal, pencarian informasi yang bersifat aktif dapat berupa kunjungan terhadap beberapa toko untuk membuat perbandingan harga dan kualitas produk, sedangkan pencarian informasi pasif hanya dengan membaca iklan di majalah atau surat kabar tanpa mempunyai tujuan khusus tentang gambaran produk yang diinginkan.
Pencarian informasi internal tentang sumber – sumber pembelian dapat berasal dari komunikasi perorangan dan pengaruh perorangan yang terutama berasal dari komunikasi perorangan dan pengaruh perorangan yang terutama berasal dari pelopor opini, sedangkan informasi eksternal berasal dari media masa dan sumber informasi dari kegiatan pemasaran perusahaan.
3. Penilaian dan seleksi terhadap alternatif pembelian.
Meliputi dua tahap yaitu menetapkan tujuan pembelian dan menilai serta mengadakan seleksi terhadap alternatif pembelian berdasarkan tujuan pembelian.
Tujuan pembelian bagi masing – masing konsumen tidak selalu sama, tergantung pada jenis produk dan kebutuhannya.
4. Keputusan untuk membeli.
Tahapan dalam proses pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen benar – benar membeli produk. Keputusan untuk membeli atau tidak produk yang ditawarkan. Keputusan untuk membeli yang diambil oleh pembeli sebenarnya merupakan kesimpulan dari sejumlah keputusan, misalnya : keputusan tentang jenis produk, bentuk produk, jumlah produk dan sebagainya. Apabila produk yang dihasilkan perusahaan sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan, maka produk tersebut mampu menarik minat untuk membeli. Bila konsumen dapat dipuaskan maka pembelian berikutnya akan membeli merk tersebut lagi dan lagi.
5. Perilaku sesudah pembelian.
Setelah melakukan pembelian produk, konsumen akan mengalami suatu tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Konsumen akan melakukan tindakan setelah kegiatan membeli dalam hal penggunaan produk tersebut sehingga harus diperhatikan oleh pemasar bahwa tugas pemasaran tidak berakhir ketika produk sudah dibeli tetapi terus sampai pada periode setelah pembelian.
Faktor Utama yang Mempengaruhi Perilaku Membeli
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian
1. Faktor Budaya
Faktor budaya memiliki pengaruh yang luas dan mendalam terhadap perilaku. Peran budaya, sub – budaya dan kelas sosial pembeli sangatlah penting.
Contoh :
Budaya populer bisa direpresentasikan dalam berbagai bentuk. iklan, musik, televisi, fashion misalnya dapat menjadi bentuk dari budaya populer. Kepopuleran model rambut Lady Diana tokoh dan disukai banyak wanita adalah salah satu contoh budaya populer dalam bentuk fashion. Sementara itu, televisi juga bisa merupakan bentuk dari budaya populer. Kata "wes ewes-ewes bablas angine" yang dikatakan oleh Basuki dalam sebuah iklan menjadi begitu populer dikalangan pemirsa televisi. Kata " wes ewes-ewes bablas angine' merupakan bentuk budaya populer yang disampaikan melalui televisi:
Selain iklan dan televisi sebagai bentuk yang bisa merepresentasikan budaya populer, musik juga bisa menjadi bentuk dari adanya budaya populer. Aliran musik Sheila merupakan aliran musik yang merepresentasikan budaya populer. Budaya populer juga bisa direpresentasikan dalam pakaian yang dikenakan oleh sekelompok orang dalam suatu masyarakat. Pakaian ketat dengan menonjolkan lekuk tubuh dan pinggang wanita merupakan budaya populer yang sekarang sedang marak dikalangan remaja putri Indonesia. Pada tahiin 60-an sampai 70-an rok mini merupakan budaya yang sangat populer pada saat itu.
a. Budaya
Budaya adalah penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar.
b. Sub - Budaya
Sub - budaya terdiri dari bangsa, agama, kelompok ras, dan daerah geografis. Banyak sub-budaya yang membentuk segmen pasar penting, dan pemasar sering merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
c. Kelas Sosial
Pada dasarnya semua masyarakat memiliki strata sosial. Strata tersebut kadang – kadang berbentuk sistem kasta dimana anggota kasta yang berbeda dibesarkan dengan peran tertentu dan tidak dapat mengubah keanggotaan kasta mereka. Kelas sosial menunjukan preferensi produk dan merek yang berbeda dalam banyak hal. Beberapa pemasar memusatkan usaha mereka pada satu kelas sosial.
2. Faktor Sosial
Sebagai tambahan atas faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor – faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status.
Kelompok Kelas Sosial
Kelas sosial dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Namun pada intinya kelas sosial itu berkisar antara kelas sosial atas sampai bawah. Untuk kepentingan pemasaran kelasa sosial itu dapat dibagi menjadi; kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Untuk suatu kajian yang lebih detail pembagian itu dapat lebih dipertajam, misalanya kelasa atas dibagi lagi menjadi kelas atas atas, atas menenggah dan atas bawah. Gambaran pembagiankelas sosial dapat dibuat sebagai berikut:
1. Kelas atas dicirikan dengan pendapatan besar, intelek, membeli barang yang bergengsi, ikut dalam klub bergengsi, suka perjalanan ke negara maju.
2. Kelas menengah dicirikan dengan kehidupan baik, membeli apa yang populer, membelajakan uang untuk hal-hal yang layak untuk dialami, memberikan perhatian tinggi pd rumah.
3. Kelas bawah dicirikan dengan sangat tergantung pd dukungan ekonomi dan emosional dr sanak keluarga, menginginkan kemudahan berkarya dan hiburan, bertahan dr cobaan dunia menuju “karunia Tuhan”.
Kelas Sosial dan Perilaku Pembelian
Kelas sosial dalam masyarakat menunjukkan status tertentu dalam masyarakat, kelas atas berarti statusnya dalam masyarakat adalah tinggi. Status membawa peran terntentu. Peran adalah seperangkat aharapa yang ditimpakan pada seseorang yang menduduki status tertentu. Di kampus status anda adalah mahasiswa maka anda harus berperilaku seperti mahasiswa, misalnya intelek, tidak kolokan, sensitif terhadap persoalan. Sedangkan ketika anda diruman status anda adalah anak, sebagai anak anda dapatm perperilaku merengek, manja, bermalas-malas, dans sebagainya, sebuahperilaku yang tidak selayaknya ketika status anda adalah mahasiswa. Disini kelihatan bahwa kelas sosial akan menentukan perilaku seseorang.
Dalam berperilaku, status sosial konsumen tturut memainkan pengaruh. Tindakan apa yang seharusnya dilakukan konsumen sangat ditentukan oleh status sosialnya. Berikut gambaran perbedaan peran yang dimainkan oleh konsumen dengan status sosial tinggi dan status sosial rendah. Perilaku Konsumen 74 Kelas Atas Kelas Bawah
1. Kebiasaan belanja
a. as a pleasure
b. mengunjungi toko yang memiliki image “high-fashion.
c. Lb banyak mencari informasi dr media masa.
d. Harga bk indikator kualitas
a. menyenangi barang masal dan toko diskon.
b. Memiliki informasi produk yang minim, bertindak berdasar display di toko & info wiraniaga, suka membeli produk “on sale”
2. Aktivitas waktu luang
a. aktivitas yang punya presrtise spt; tenis, golf, menghadiri kegiatan sosial, membaca, mengikuti organisai sosial.
b. Lb banyak membaca surat kabar, untuk acara TV menyukai olah raga dan drama terbaru.
a. lebih banyak melihat TV, memancing, sepak bola, angkat berat, dan dirumah.
b. Tidak banyak baca surat kabar, suka melihat opera sabun, quiz, dan komedi situasi.
3. Kepribadian
a. berfokus pada masa yad, punya keyakinan diri, berani mengambil risiko, memiliki pandangan yang luas.
b. Kepemilikan melambangkan “motivasi pribadi pemilik”.
a. berfokus pd masa kini dan masa lalu, pandangan yang terbatas, berorientasi pd diri dan keluarga.
b. Kepemilikan mrp “nasib baik”
a. Kelompok Acuan
Kelompok Acuan adalah seseorang terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung ( tatap muka ) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang.
Pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok acuan pelanggan mereka. Namun, tingkat pengaruh kelompok acuan terhadap produk dan merk adalah berbeda – beda. Kelompok acuan mempunyai pengaruh kuat atas pilihan produk dan pilihan merk.
b. Keluarga
Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan ia telah menjadi obyek penelitian yang ekstensif. Anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer yang paling berpengaruh.
c. Peran dan Status
Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Setiap peran memiliki status. Orang – orang memilih produk yang mengkonsumsikan peran dan status mereka dalam masyarakat.
Pembelian Secara Online
Pembelian Online,
order barang secara online atau belanja online adalah sebuah kegiatan belanja
yang dilakukan lewat media internet. seiring perkembangan teknologi khususnya
sejak diperkenalkannya internet sebagai media baru, penggunaan Internet sebagai
media untuk jual-beli semakin meningkat. Pembelian online atau belanja barang
secara online kini menjadi sebuah gaya hidup masyarakat modern, dimana trendnya
semakin lama semakin meningkat. banyak keuntungan dan kemudahan yang didapat
menjadi salah satu faktor yang memicu trend pembelian online atau belanja
online.
Keuntungan Pembelian online atau belanja online :
1. Menghemat Waktu
Dengan menggunakan
internet sebagai media untuk beli barang atau berbelanja secara online akan
menghemat waktu secara signifikan, dimana kita tidak perlu datang ke tempat
barang tersebut. yang perlu kita lakukan hanya dengan cek barang secara visual
lewat media internet. hal ini tentu sangat memudahkan kita dan cukup menghemat
waktu.
2. Menghemat Biaya
Pembelian online sangat
menghemat biaya. penghematan ini ditinjau dari tidak perlunya kita mengunakan
transportasi untuk datang ke tempat barang yang ingin di beli. terkadang barang
yang dijual secara online di situs-situs
terkenal luar negeri juga memiliki harga yang lebih murah
dibanding dengan harga jual barang di tempat kita.
3. Efisien
efisiensi adalah salah
satu faktor yang berperan juga dalam perkembangan pembelian online atau belanja
online. Pembelian online sangat efisien karena kita bisa
memangkas banyak tahapan yang biasa dilakukan saat membeli barang secara
tradisonal. salah satu efisiensi tersebut adalah tidak perlunya kita mengantri
di kasir untuk membayar barang yang kita inginkan, tidak perlunya kita untuk
membawa belanja kita karena dengan membeli atau belanja secara online, barang
belanja kita akan diantar sampai di rumah.
4. Lintas Batas
Pembelian online tidak
mengenal batasan waktu dan tempat. Anda bisa membeli barang atau belanja kapan
pun dan di manapun. jika barang yang anda inginkan ada di luar negeri, dengan
adanya pembelian online atau belanja secara online anda tidak perlu harus
datang dan berkunjung ke luar negeri hanya untuk berbelanja barang yang anda
inginkan. cukup dengan browser di internet dan melakukan pembayaran maka barang
yang anda inginkan akan didapatkan dengan mudah.
Sarana untuk pembelian
online atau belanja online :
hal-hal yang harus
dimiliki seseorang untuk pembelian online dan berbelanja secara online :
1. Koneksi Internet
2. email
3. Akun di webstore yang di tuju
4. Paypal
5. Kartu kredit
6. Kemampuan berbahasa Asing (khususnya Bahasa
Inggris / untuk memudahkan berkomunikasi dengan penjual)
Perkembangan Pembelian online atau belanja online di Indonesia
Perkembangan pembelian
online dan belanja online di Indonesia semakin hari semakin meningkat, seiring
perkembangan kebutuhan penggunaan Internet di indonesia. Meskipun kebiasaan
berbelanja online di indonesia masih di dominasi kalangan tertentu, namun
peningkatan perkembangan transakasi jual beli online di indonesia semakin lama
semakin meningkat. Belanja online atau pembelian online di indonesia kini tidak
saja di dominasi jual beli barang namu juga jasa.
Cara untuk melakukan Pembelian online atau berbelanja online :
Untuk melakukan
transaksi jual - beli online sangat mudah. kita hanya perlu menyalakan internet
dan mulai menjalankan browser untuk mencari barang dan harga yang cocok di
situs atau webstore. setelah memilih barang yang ingin dibeli, kita hanya perlu
melakukan pembayaran. alat pembayaran yang paling sering digunakan adalah mengunakan
paypal atau kartu kredit. Saya secara pribadi menyarankan agar anda hanya
membeli barang di situs-situs atau webstore luar negeri yang telah memiliki
reputasi seperti amazon.com, ebay.com, buy.com dan lain-lain. Hal ini
untuk memberikan keamanan anda dalam bertransaksi atau berbelanja online.
situs-situs yang saya sebutkan di atas telah memiliki reputasi dan keamanan
dalam berbelanja. sehingga anda tidak perlu kuatir dengan penipuan yang mungkin
dilakukan.
Kendala yang mungkin dihadapi untuk melakukan pembelian online :
Kendala yang paling
sering dialami dalam melakukan pembelian dan belanja online ada beberapa hal,
diantaranya :
a. Tidak memiliki akun paypal dan kartu kredit
sebagai alat pembayaran
b. Kebingungan untuk melakukan tata cara pembelian
dan belanja online.
c. Barang hanya dapat dikirim ke alamat USA
saja
d. Webstore hanya menerima kartu kredit atau Paypal
dari USA saja
e. Tidak mengerti tentang penghitungan bea cukai
f. Keamanan bertransaksi online
g. Tidak mau repot mengurus order dan lain
sebagainya
Minggu, 11 November 2012
Contoh Kasus : Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian
Istilah pasar banyak diartikan secara beda sesuai dengan sudut pandang penglihatan. Disini, kebutuhan dan keinginan konsumen mengawali kehadiran produk yang dapat memenuhinya. Hal tersebut, terungkap melalui jembatan penyeberangan motivasi dan kemampuan membeli yang dimiliki konsumen. Analisa pasar adalah suatu proses untuk menentukan potensi penjualan. Potensi pasar adalah suatu perkiraan kapasitas dari suatu pasar untuk menyerap barang produksi. Perkiraan tersebut bisa dinyatakan dalam bentuk fisik atau dalam jumlah mata uang, atau bisa dalam bentuk persentase. Analisi pasar perpindahan kartu pra bayar disini, yaitu memperkirakan atau memprediksi pangsa pasar di masa akan datang dengan melihat besar persentase loyalitas pelanggan untuk tetap setia atau beralih ke suatu merek selama kurun waktu satu tahun.
Kartu pra bayar GSM adalah suatu kartu telepon GSM yang pembayarannya dilakukan pada awal pembayaran sebelum digunakan, sedangkan yang dimaksud dengan kartu pasca bayar GSM adalah kartu telepon GSM yang pembayarannya dilakukan diakhir atau setelah penggunaan telepon. Biasanya jenis kartu pasca bayar ini tidak sering digunakan karena tergolong lebih rumit baik dari segi pembayaran dan peregistrasiannya, cara pembayaran kartu ini sama halnya dengan rekening listrik, penggunaan kartu kredit dan rekening telepon rumah.
Oleh karena itu, banyak konsumen yang menggunakan jenis kartu pra bayar GSM dibandingkan dengan kartu pasca bayar. Khususnya studi kasus dalam penelitian ini yaitu pada mahasiswa UNDIP Semarang. Kalangan mahasiswa lebih banyak menggunakan kartu pra bayar dikarenakan kartu pra bayar lebih mudah dalam pembayaran dan besar nilai nominal dalam isi ulang kartu pra bayar ini dapat disesuaikan dengan keuangan mahasiswa.
Seiring dengan perkembangan perekonomian yang semakin dinamis, yang ditandai dengan adanya perubahan-perubahan dalam dunia bisnis dan tingkat persaingan yang semakin meningkat, menyebabkan semakin banyak konsumsi produk yang ditawarkan di pasar guna memenuhi kebutuhan konsumen. Persaingan bisnis yang ketat salah satunya ditunjukkan dengan semakin beraneka ragamnya jenis produk dan fitur-fitur yang diberikan atau ditawarkan, karena dengan semakin banyaknya varian merek produk sejenis beserta fitur-fiturnya yang saling beradu kelebihan memikat konsumen, maka akan semakin besar kemungkinan dari keinginan konsumen untuk beralih ke pemilihan merek lainnya (brand switching) atau tetap setia pada produk yang disukainya.. Selama kurun waktu setahun, konsumen memungkinkan untuk melakukan perpindahan merek kartu pra bayar GSM lebih dari satu kali. Akan tetapi, perpindahan merek ini dihitung dari pertama kali konsumen menggunakan merek tertentu sampai dengan terakhir kali konsumen menggunakan merek tertentu. Persaingan ketat pada bisnis Kartu Prabayar GSM dari berbagai Operator Telepon Seluler menuntut strategi perubahan dan perbaikan secara lebih baik dalam menghasilkan produk atau layanan yang berkualitas tinggi dengan harga yang wajar dan bersaing. Operator telepon seluler perlu mengetahui perpindahan merek untuk masing-masing periodenya dan menganalisis atribut-atribut produk dan layanan yang menjadi peringkat preferensi konsumen dalam memilih dan membeli suatu produk atau layanan. Penelitian ini memanfaatkan analisis merek dengan metode rantai markov. Faktor-faktor yang mempengaruhi tetap loyalnya atau berpindahnya konsumen dapat diketahui dari peringkat preferensi konsumen terhadap atribut atau layanan yang paling dipertimbangkan. Dari hasil penelitian bahwasanya harga kartu perdana/voucher isi ulang merupakan faktor yang paling berpengaruh bagi konsumen untuk tetap loyal karena harga kartu perdana / voucher isi ulang menduduki peringkat pertama. Banyak konsumen yang berpindah merek ke kartu pra bayar IM3, ini ditunjukkan oleh tingginya angka probabilitas transisi, konsumen dari merek kartu pra bayar IM3 juga memiliki loyalitas paling tinggi, kemudian diikuti merek kartu pra bayar Simpati, Mentari, AS, XL, Three dan Axis. Kondisi steady state terjadi pada periode ke-29, sehingga didapatkan kemungkinan probabilitas pasar yang akan datang untuk kartu pra bayar Simpati sebesar 4,43%; AS sebesar 3,87%; IM3 sebesar 76,25%; Mentari sebesar 0,18%; XL sebesar 1,33%; Three sebesar 4,83% dan Axis sebesar 9,11%.
PENGARUH BUDAYA TERHADAP PEMBELIAN DAN KONSUMSI
Masyarakat modern adalah masyarakat konsumtif. Masyarakat
yang terus menerus berkonsumsi. Namun konsumsi yang dilakukan bukan lagi hanya
sekedar kegiatan yang berasal dari produksi. Konsumsi tidak lagi sekedar
kegiatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dan fungsional manusia. Konsumsi
telah menjadi budaya, budaya konsumsi. Sistem masyarakat pun telah berubah, dan
yang ada kini adalah masyarakat konsumen, yang mana kebijakan dan aturan-aturan
sosial masyarakat sangat dipengaruhi oleh kebijakan pasar.
Fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat
konsumen, juga sangat diwarnai dengan kegempitaan kegiatan konsumsi. Bagi
masyarakat konsumen, saat ini hampir
tidak ada ruang dan waktu tersisa untuk menghindari diri dari serbuan berbagai
informasi yang berurusan dengan kegiatan konsumsi. Di rumah, di kantor atau di
kampus, kita tak henti-henti disodori berbagai informasi yang menstimulasi
konsumsi melalui iklan di tv, koran maupun majalah-majalah. Di jalan, selain
terus melewati pertokoan dan pusat perbelanjaan, kita juga terus dihadapkan
dengan pemandangan attraktif dari promosi media luar ruang yang menghiasi
jalan-jalan dan berbagai sudut strategis kota.
Fenomena masyarakat konsumsi tersebut, yang telah melanda
sebagian besar wilayah didunia, saat ini juga sudah terjadi pada masyarakat
Indonesia, utamanya pada masyarakat perkotaan. Menurut Yasraf Amir Piliang,
fenomena yang menonjol dalam masyarakat Indonesia saat ini, yang menyertai
kemajuan ekonomi adalah berkembangnya budaya konsumsi yang ditandai dengan
berkembangnya gaya hidup. Berbagai gaya hidup yang terlahir dari kegiatan
konsumsi semakin beragam pada masyarakat perkotaan Indonesia, terutama Jakarta.
Nge-mall, clubbing, fitness, nge-wine, hang out di cafe adalah beberapa contoh
gaya hidup yang nampak menonjol saat ini. Semua aktifitas tersebut adalah
perwujudan dari hingar bingar konsumsi.
Berkembangnya gaya hidup masyarakat perkotaan tersebut, satu
sisi bisa menjadi pertanda positif meningkatnya kesejahteraan hidup masyarakat
kota. Yang mana peningkatan kegiatan konsumsi dipandang sebagai efek dari
naiknya penghasilan dan taraf hidup masyarakat. Namun disisi lain, fenomena
tersebut juga bisa dikatakan sebagai pertanda kemunduran rasionalitas
masyarakat, yang mana konsumsi dianggap sebagai penyakit yang menggerogoti jiwa
dan pikiran masyarakat. Konsumsi menjadi orientasi hidup bagi sebagian
masyarakat, sehingga setiap aktifitas yang dilakukannya didasari karena
kebutuhan berkonsumsi. Oleh karena itu, banyak pihak yang menyalahkan
rasionalitas konsumsi sebagai faktor yang menyebabkan hilangnya kritisme
masyarakat terhadap berbagai hal yang vital bagi kehidupan, kebijakan
pemerintah maupun fenomena hidup lainnya.
Banyak hal yang bisa dibahas mengenai konsumsi. Meskipun
demikian, ada beberapa fakta yang tetap tak terbantahkan, yaitu bahwa: Pertama,
kita selalu terikat dengan kegiatan konsumsi. Kedua, secara fisik kita hanya
bisa bertahan melalui konsumsi. Ketiga, dalam semua hal, kita semua adalah
konsumen.
Meskipun memang konsumsi adalah aktifitas kita yang tak
terelakkan, namun ada beberapa perkembangan luar biasa yang harus kita waspadai
berkenaan dengan aktifitas tersebut. Terutama tentang terbentuknya suatu bentuk
kehidupan sosial baru yang menjadikan konsumsi sebagai pusatnya, sehingga
kemudian justru muncul banyak masalah yang semakin nyata dan meresahkan bagi
kita semua. Perkembangan yang luar biasa ini menekankan pembedaan antara keperluan-keperluan untuk bertahan
hidup bagi manusia dan perkembangan suatu ideologi yang berdasar pada
konsumerisme.
Pengertian Kebudayaan
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu
buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang
berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan
juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang
diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
Definisi budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan
politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri
manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara
genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang
berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa
budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat
kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku
komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan
sosial manusia.
Pengaruh Kebudayaan
Terhadap Perilaku Konsumen
Pengertian perilaku konsumen menurut Shiffman dan Kanuk (2000)
adalah perilaku yang diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan,
mengevaluasi dan mengabaikan produk, jasa, atau ide yang diharapkan dapat
memuaskan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya dengan mengkonsumsi
produk atau jasa yang ditawarkan.
Selain itu perilaku konsumen menurut Loudon dan Della Bitta
(1993)
adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik
individu-individu yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai,
mendapatkan, menggunakan, atau mengabaikan barang-barang dan jasa-jasa.
Menurut Ebert dan Griffin (1995) consumer behavior
dijelaskan sebagai upaya konsumen untuk membuat keputusan tentang suatu produk
yang dibeli dan dikonsumsi.
MODEL PERILAKU
KONSUMEN
Konsumen mengambil banyak macam keputusan membeli setiap
hari. Kebanyakan perusahaan besar meneliti keputusan membeli konsumen secara
amat rinci untuk menjawab pertanyaan mengenai apa yang dibeli konsumen, dimana
mereka membeli, bagaimana dan berapa banyak mereka membeli, serta mengapa
mereka membeli.
Pertanyaan sentral bagi pemasar: Bagaimana konsumen
memberikan respon terhadap berbagai usaha pemasaran yang dilancarkan
perusahaan? Perusahaan benar−benar memahami bagaimana konsumen akan memberi
responterhadap sifat-sifat produk, harga dan daya tarik iklan yang berbeda
mempunyai keunggulan besar atas pesaing.
FAKTOR BUDAYA
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada
perilaku konsumen. Pengiklan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh
budaya, subbudaya dan kelas social pembeli. Budaya adalah penyebab paling
mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang.
Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi,
keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari
keluarga dan lembaga penting lainnya. Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya
– sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang
lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat
jenis: kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis.
Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar seringkali
merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan
konsumen.
Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen
dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan
keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial
bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur
dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain.
• Pengaruh Budaya
Yang Tidak Disadari
Dengan adanya kebudayaan, perilaku konsumen mengalami
perubahan. Dengan memahami beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat
membantu pemasar dalam memprediksi penerimaan konsumen terhadap suatu produk.
Pengaruh budaya dapat mempengaruhi masyarakat secara tidak sadar. Pengaruh
budaya sangat alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering
diterima begitu saja. Ketika kita ditanya kenapa kita melakukan sesuatu, kita
akan otomatis menjawab, “ya karena memang sudah seharusnya seperti itu”.
Jawaban itu sudah berupa jawaban otomatis yang memperlihatkan pengaruh budaya
dalam perilaku kita. Barulah ketika seseorang berhadapan dengan masyarakat yang
memiliki budaya, nilai dan kepercayaan yang berbeda dengan mereka, lalu baru
menyadari bahwa budaya telah membentuk perilaku seseorang. Kemudian akan muncul
apresiasi terhadap budaya yang dimiliki bila seseorang dihadapan dengan budaya
yang berbeda. Misalnya, di budaya yang membiasakan masyarakatnya menggosok gigi
dua kali sehari dengan pasta gigi akan merasa bahwa hal itu merupakan kebiasaan
yang baik bila dibandingkan dengan budaya yang tidak mengajarkan masyarakatnya
menggosok gigi dua kali sehari. Jadi, konsumen melihat diri mereka sendiri dan
bereaksi terhadap lingkungan mereka berdasarkan latar belakang kebudayaan yang
mereka miliki. Dan, setiap individu akan mempersepsi dunia dengan kacamata
budaya mereka sendiri.
• Pengaruh Budaya
dapat Memuaskan Kebutuhan
Budaya yang ada di masyarakat dapat memuaskan kebutuhan
masyarakat. Budaya dalam suatu produk yang memberikan petunjuk, dan pedoman
dalam menyelesaikan masalah dengan menyediakan metode “Coba dan buktikan” dalam
memuaskan kebutuhan fisiologis, personal dan sosial. Misalnya dengan adanya
budaya yang memberikan peraturan dan standar mengenai kapan waktu kita makan,
dan apa yang harus dimakan tiap waktu seseorang pada waktu makan. Begitu juga
hal yang sama yang akan dilakukan konsumen misalnya sewaktu mengkonsumsi
makanan olahan dan suatu obat.
• Pengaruh Budaya dapat Dipelajari
Budaya dapat dipelajari sejak seseorang sewaktu masih kecil,
yang memungkinkan seseorang mulai mendapat nilai-nilai kepercayaan dan
kebiasaan dari lingkungan yang kemudian membentuk budaya seseorang. Berbagai
macam cara budaya dapat dipelajari. Seperti yang diketahui secara umum yaitu
misalnya ketika orang dewasa dan rekannya yang lebih tua mengajari anggota
keluarganya yang lebih muda mengenai cara berperilaku. Ada juga misalnya seorang
anak belajar dengan meniru perilaku keluarganya, teman atau pahlawan di
televisi. Begitu juga dalam dunia industri, perusahaan periklanan cenderung
memilih cara pembelajaran secara informal dengan memberikan model untuk ditiru
masyarakat. Misalnya dengan adanya pengulangan iklan akan dapat membuat nilai
suatu produk dan pembentukan kepercayaan dalam diri masyarakat. Seperti
biasanya iklan sebuah produk akan berupaya mengulang kembali akan iklan suatu
produk yang dapat menjadi keuntungan dan kelebihan dari produk itu sendiri.
Iklan itu tidak hanya mampu mempengaruhi persepsi sesaat konsumen mengenai
keuntungan dari suatu produk, namun dapat juga memepengaruhi persepsi generasi
mendatang mengenai keuntungan yang akan didapat dari suatu kategori produk tertentu.
• Pengaruh Budaya
yang Berupa Tradisi
Tradisi adalah aktivitas yang bersifat simbolis yang
merupakan serangkaian langkah-langkah (berbagai perilaku) yang muncul dalam
rangkaian yang pasti dan terjadi berulang-ulang. Tradisi yang disampaikan
selama kehidupan manusia, dari lahir hingga mati. Hal ini bisa jadi sangat
bersifat umum. Hal yang penting dari tradisi ini untuk para pemasar adalah
fakta bahwa tradisi cenderung masih berpengaruh terhadap masyarakat yang
menganutnya. Misalnya yaitu natal, yang selalu berhubungan dengan pohon cemara.
Dan untuk tradisi-tradisi misalnya pernikahan, akan membutuhkan
perhiasan-perhiasan sebagai perlengkapan acara tersebut.
Budaya dan konsumsi
Produk mempunyai fungsi, bentuk dan arti . Ketika konsumen
membeli suatu produk mereka berharap produk tersebut menjalankan fungsi sesuai
harapannya, dan konsumen terus membelinya hanya bila harapan mereka dapat
dipenuhi dengan baik. Namun, bukan hanya fungsi yang menentukan keberhasilan
produk . Produk juga harus memenuhi harapan tentang norma, misalnya persyaratan
nutrisi dalam makanan, crispy (renyah) untuk makanan yang digoreng, makanan harus panas untuk ‘steak hot plate’
atau dingin untuk ‘ agar-agar pencuci mulut’.Seringkali produk juga didukung
dengan bentuk tertentu untuk menekankan simbol fungsi seperti ‘ kristal biru’
pada detergen untuk pakaian menjadi lebih putih. Produk juga memberi simbol
makna dalam masyarakat misal “ bayam” diasosiasikan dengan kekuatan dalam film
Popeye atau makanan juga dapat disimbolkan sebagai hubungan keluarga yang erat
sehingga resep turun temurun keluarga menjadi andalan dalam memasak, misal
iklan Sasa atau Ajinomoto. Produk dapat menjadi simbol dalam masyarakat untuk
menjadi ikon dalam ibadat agama.
Budaya merupakan sesuatu yang perlu dipelajari, karena
konsumen tidak dilahirkan spontan mengenai nilai atau norma kehidupan sosial
mereka, tetapi mereka harus belajar tentang apa yang diterima dari keluarga dan
teman-temannya. Anak menerima nilai dalam perilaku mereka dari orang tua , guru
dan teman-teman di lingkungan mereka. Namun dengan kemajuan zaman yang sekarang
ini banyak produk diarahkan pada kepraktisan, misal anak-anak sekarang lebih
suka makanan siap saji seperti Chicken Nugget, Sossis, dan lain-lainnya karena
kemudahan dalam terutama bagi wanita yang bekerja dan tidak memiliki waktu
banyak untuk mengolah makanan.
Kebudayaan juga mengimplikasikan sebuah cara hidup yang
dipelajari dan diwariskan, misalnya anak yang dibesarkan dalam nilai budaya di
Indonesia harus hormat pada orang yang lebih tua, makan sambil duduk dsb.
Sedangkan di Amerika lebih berorientasi pada budaya yang mengacu pada
nilai-nilai di Amerika seperti kepraktisan, individualisme, dsb.
Budaya berkembang karena kita hidup bersama orang lain di
masyarakat. Hidup dengan orang lain menimbulkan kebutuhan untuk menentukan
perilaku apa saja yang dapat diterima semua anggota kelompok. Norma budaya
dilandasi oleh nilai-nilai, keyakinan dan sikap yang dipegang oleh anggota
kelompok masyarakat tertentu. Sistem nilai mempunyai dampak dalam perilaku
membeli, misalnya orang yang memperhatikan masalah kesehatan akan membeli
makanan yang tidak mengandung bahan yang merugikan kesehatannya.
Nilai memberi arah pengembangan norma, proses yang dijalani
dalam mempelajari nilai dan norma disebut ”sosialisasi atau enkulturasi”.
Enkulturasi menyebabkan budaya masyarakat tertentu akan bergerak dinamis
mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya, bila masyarakat cenderung sulit
menerima hal-hal baru dalam masyarakat dengan mempertahankan budaya lama disebut
Accultiration.
Budaya pada gilirannya akan mempengaruhi pengembangan dalam
implikasi pemasaran seperti perencanaan produk, promosi ,distribusi dan
penetapan harga. Untuk mengembangkan strategi yang efektif pemasar perlu
mengidentifikasi aspek-aspek penting kebudayaan dan memahami bagaimana mereka
mempengaruhi konsumen. Sebagaimana strategi dalam penciptaan ragam produk,
segmentasi pasar dan promosi yang dapat disesuaikan dengan budaya masyarakat.
Beberapa perubahan pemasaran yag dapat mempengaruhi kebudayaan,
seperti :
1. Tekanan pada kualitas
2. Peranan wanita yang berubah
3. Perubahan kehidupan keluarga
4. Sikap yang berubah terhadap kerja dan kesenangan
5. Waktu senggang yang meningkat
6. Pembelian secara impulsif
7. Hasrat akan kenyamanan
Sumber :
KEBUTUHAN VERSUS KEINGINAN AKAN SUATU BARANG
SALAH satu kesulitan dalam mengolah keuangan adalah mampu membedakan antara "keinginan" dan "kebutuhan". Namun, banyak orang tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sudah memiliki "bakat" tersebut.
Seperti dilansir dari Forbes, Senin (18/7/2011), para pendidik keuangan pribadi seringkali menggunakan kata keinginan versus kebutuhan sebelum melakukan pembelian. Untuk menunjukkan keampuhan manajemen kita di kehidupan sehari-hari, ada baiknya Anda mencatat apa yang dibutuhkan dan inginkan dalam satu hari.
Jadwal Anda untuk mencatat antara kebutuhan dan keinginan tersebut sangat berguna untuk mengerem keinginan Anda dalam membeli sesuatu. Dengan bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan diharapkan bisa membuat Anda lebih hemat.
Buatlah jadwal mulai dari Anda benar-benar bangun tidur. Di sini, apa yang Anda inginkan dan butuhkan perlahan mulai terditeksi. Simpel, namun hal kecil ini bisa mengarahkan Anda untuk meminimalisasikan keinginan Anda ketimbang apa yang Anda butuhkan.
Misalkan Anda ingin membeli kopi untuk menunjang aktivitas Anda hari ini agar tidak mengantuk dan lebih segar. Apakah itu cukup layak untuk dilakukan? Dalam kasus ini, Anda membutuhkannya dan bukan hanya sekadar menginginkannya. Namun ketika Anda sudah menginginkan lebih dari tiga cangkir sehari, barulah Anda menyortirnya. Satu cangkir kopi di pagi hari cukup untuk menemani aktivitas Anda, di samping banyak minum caffein tidak baik untuk kesehatan.
Targetkan apa yang akan Anda lakukan hari ini. Misalkan Anda ingin membayar tagihan, maka Anda bisa saja langsung menuju ke tempat pembayaran tersebut dan tidak usah "mampir" ke tempat lain. Biasanya, para ibu rumah tangga suka sekali "mengunjungi" tempat yang sama sekali tidak mereka rencanakan sebelumnya dalam perjalanan. Misalnya pergi ke mal, atau sekadar hang out dengan teman-teman mereka.
Hal-hal semacam inilah yang tidak Anda sadari perlahan-lahan menguras kantong. Sehingga akhirnya manajemen keuangan Anda menjadi tidak stabil, bahkan terkadang over budget dari yang sudah dianggarkan sebelumnya.
Ketika jadwal sudah tersusun, untuk satu hari, ceklah seberapa sering Anda bernegosiasi antara keinginan dan kebutuhan tersebut dalam hidup Anda. Secara khusus, lihatlah bagaimana Anda menerapkan jadwal tersebut dalam kehidupan Anda, apakah barang-barang yang Anda inginkan layak dibeli?
Seperti dilansir dari Forbes, Senin (18/7/2011), para pendidik keuangan pribadi seringkali menggunakan kata keinginan versus kebutuhan sebelum melakukan pembelian. Untuk menunjukkan keampuhan manajemen kita di kehidupan sehari-hari, ada baiknya Anda mencatat apa yang dibutuhkan dan inginkan dalam satu hari.
Jadwal Anda untuk mencatat antara kebutuhan dan keinginan tersebut sangat berguna untuk mengerem keinginan Anda dalam membeli sesuatu. Dengan bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan diharapkan bisa membuat Anda lebih hemat.
Buatlah jadwal mulai dari Anda benar-benar bangun tidur. Di sini, apa yang Anda inginkan dan butuhkan perlahan mulai terditeksi. Simpel, namun hal kecil ini bisa mengarahkan Anda untuk meminimalisasikan keinginan Anda ketimbang apa yang Anda butuhkan.
Misalkan Anda ingin membeli kopi untuk menunjang aktivitas Anda hari ini agar tidak mengantuk dan lebih segar. Apakah itu cukup layak untuk dilakukan? Dalam kasus ini, Anda membutuhkannya dan bukan hanya sekadar menginginkannya. Namun ketika Anda sudah menginginkan lebih dari tiga cangkir sehari, barulah Anda menyortirnya. Satu cangkir kopi di pagi hari cukup untuk menemani aktivitas Anda, di samping banyak minum caffein tidak baik untuk kesehatan.
Targetkan apa yang akan Anda lakukan hari ini. Misalkan Anda ingin membayar tagihan, maka Anda bisa saja langsung menuju ke tempat pembayaran tersebut dan tidak usah "mampir" ke tempat lain. Biasanya, para ibu rumah tangga suka sekali "mengunjungi" tempat yang sama sekali tidak mereka rencanakan sebelumnya dalam perjalanan. Misalnya pergi ke mal, atau sekadar hang out dengan teman-teman mereka.
Hal-hal semacam inilah yang tidak Anda sadari perlahan-lahan menguras kantong. Sehingga akhirnya manajemen keuangan Anda menjadi tidak stabil, bahkan terkadang over budget dari yang sudah dianggarkan sebelumnya.
Ketika jadwal sudah tersusun, untuk satu hari, ceklah seberapa sering Anda bernegosiasi antara keinginan dan kebutuhan tersebut dalam hidup Anda. Secara khusus, lihatlah bagaimana Anda menerapkan jadwal tersebut dalam kehidupan Anda, apakah barang-barang yang Anda inginkan layak dibeli?
KEBUTUHAN DAN KEINGINAN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN
Apa yang Anda inginkan tidak selalu Anda butuhkan. Perbedaan antara keinginan (wants)dan kebutuhan (needs) penting untuk dikenali agar kita tidak jatuh ke dalam hidup konsumtif dan suka membeli sesuatu tanpa rencana (impulse buying). Dalam kehidupan modern ini, seringkali batas antara keinginan dan kebutuhan menjadi kabur. Berbagai iklan, informasi, rekomendasi dan lain-lain mengubah cara pandang akan sesuatu. Hal yang tadinya dianggap keinginan mewah, perlahan berubah menjadi keinginan yang wajar sampai akhirnya berubah menjadi sebuah kebutuhan.Ketika ini terjadi, tak jarang kebutuhan yang lebih utama dan penting malah mendapat prioritas belakangan.
Kebutuhan adalah fungsi dasar atas sesuatu yang secara esensial diperlukan: makan untuk memenuhi nutrisi, tempat tinggal untuk istirahat, transportasi untuk bekerja, pendidikan untuk masa depan anak dan lain-lain.
Sedangkan keinginan adalah semua fungsi tambahan yang jika tidak ada sebenarnya tidak mengganggu hidup Anda akan tetapi Anda mengharapkan untuk bisa mendapatkan fungsi tambahan tersebut. Makanan yang mahal, rumah yang besar dan mewah, mobil baru dan mengkilat, dan seterusnya. Keinginan seringkali merupakan perwujudan untuk menegaskan status sosial seseorang sekaligus membuktikan kepada orang lain bahwa dia mampu memilikinya.
Keinginan yang Mengalahkan Kebutuhan
Apakah sebuah keinginan tidak boleh dipenuhi? Menurut pendapat saya boleh-boleh saja asalkan semua kebutuhan yang penting telah mendapat perhatian. Jangan sampai sebuah keinginan yang remeh temeh menggeser kebutuhan yang lebih penting dan esensial.
Sebagai contoh, ada keluarga yang rela mengambil kredit untuk membeli sebuah TV LCD baru berharga di atas 10 juta rupiah. Padahal sebelumnya keluarga tersebut masih memiliki TV yang cukup baik dan besar meskipun sudah berumur beberapa tahun. Dengan pembelian TV baru tadi mau tidak mau mengganggu pengeluaran rutin keluarga tersebut sampai-sampai uang sekolah anak harus menunggak karena tagihan kredit yang jatuh tempo.
Contoh lain adalah seorang eksekutif muda yang menyukai teknologi. Sekitar 6 bulan lalu dia telah membeli Smartphone berharga 4 jutaan. Dengan maraknya pengguna Blackberrybelakangan ini, sang eksekutif muda pun tergoda dan menghabiskan lebih dari setengah gaji bulanannya untuk memenuhi keinginan tersebut. Dengan mainan baru tersebut, dia bisa chatting kapan saja, melakukan update statusnya di situs Facebook, sampai menerima email secara instan. Dengan pembelian Blackberry tersebut, sang eksekutif muda kesulitan untuk membiayai pengeluarannya pada bulan berjalan termasuk membantu membayarkan uang kuliah adiknya yang selama ini dia lakukan.
Dari kedua contoh di atas kita akan melihat apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan dan apa yang merupakan keinginan belaka.
Pada contoh pertama yakni pembelian TV LCD, keluarga tersebut membutuhkan TV untuk menonton berita sekaligus hiburan keluarga. Kebutuhan tersebut sebenarnya terpenuhi karena TV lama yang dimiliki berukuran cukup besar yakni 29 inch dan seluruh anggota keluarga cukup puas menggunakannya. Akan tetapi muncul keinginan untuk mengganti dengan LCD TV agar ruang keluarga terlihat lebih elegan dan mewah. Meskipun sebenarnya lebar layar yang ditawarkan tidak jauh berbeda dari TV yang lama. Layar LCD memang terlihat lebih menarik, namun sebenarnya secara total tidak memberi perbedaan signifikan bagi keluarga tersebut.
Pada contoh yang pertama ini, keluarga tersebut telah mengorbankan kepentingan dan kebutuhan yang lebih utama yakni pendidikan anak. Dengan pembelian tersebut, mereka harus membayar cicilan yang lumayan setiap bulannya sehingga sedikit mengganggu pengeluaran rutin bulanan termasuk membayar uang sekolah anak yang juga cukup mahal. Keluarga ini telah mengubah keinginan menjadi kebutuhan dan sebaliknya kebutuhan digeser pada urutan yang lebih bawah.
Sekarang kita lihat contoh kedua. Eksekutif muda yang satu ini sebenarnya sudah cukup puas dengan Smartphone-nya. Meskipun tidak secanggih Blackberry, namun device yang lama juga memiliki kemampuan untuk akses internet. Adapun email memang tidak bisa diakses instan namun masih bisa disinkronkan dari komputer sehingga bisa dibaca dalam perjalanan.
Pada contoh kedua, yang menjadi kebutuhan adalah alat komunikasi, terutama suara dan sms. Kebutuhan internet sebenarnya sudah lebih dari cukup terpenuhi dari komputer yang ada. Namun keinginan akan alat yang baru karena banyak orang memakainya membuat gengsi sang eksekutif muda terpancing. Dia pun mengorbankan kebutuhan lain yang lebih penting demi menyalurkan hasrat menginginkan sesuatu.
Mengelola Keinginan
Ketika seseorang menginginkan sesuatu, seringkali aspek emosional lebih mendominasi daripada aspek rasional. Bayangkan ketika Anda berjalan-jalan ke mall kemudian melihat tas yang bagus. Anda sangat ingin memilikinya karena tas tersebut akan match dengan gaya Anda sekaligus dapat ditunjukkan kepada rekan-rekan waktu pertemuan bersama minggu depan. Aspek emosional yang muncul adalah hasrat kuat untuk memiliki sehingga seolah-olah menjadi kebutuhan.
Jika kita berhenti sejenak dan berpikir, maka Anda bisa mempertimbangkan keputusan pembelian dengan lebih jernih. Anda akan berpikir bahwa di rumah masih ada 3 tas bagus yang jarang dipakai. Tas yang baru dilihat inipun mungkin hanya akan terpakai beberapa kali. Kalau dibeli, harganya cukup mahal sementara kegunaannya terbatas. Untuk memenuhi gengsi mungkin terlihat diperlukan tapi secara fungsi sebenarnya tidak ada yang berbeda.
Lantas, apakah setiap keinginan selalu tidak baik dan tidak boleh dipenuhi? Jawabannya adalah tergantung kondisi dan kemampuan Anda saat itu. Jika Anda memiliki banyak uang, membeli barang yang mahal dan memiliki prestise tentu sah-sah saja asalkan bukan dengan niat menyombongkan diri. Sebaliknya jika penghasilan Anda masih terbatas tapi memaksakan, maka di sinilah letak permasalahannya. Orang yang memiliki uang banyak sekalipun bukan berarti bisa memenuhi apa yang diinginkannya. Prinsip utama adalah pengendalian diri, pengendalian keinginan, dan menilai secara bijak apa yang perlu dipenuhi dan apa yang tidak. Dengan demikian Anda menjadi pengambil keputusan yang bijaksana.
Tips Mengelola Keinginan dan Kebutuhan
Berikut adalah tips sederhana yang dapat Anda pakai untuk mengelola segala keinginan dan kebutuhan dengan lebih baik:
- Susun segala kebutuhan Anda
- Prioritaskan kebutuhan tersebut dan pastikan terpenuhi lebih dahulu
- Tentukan beberapa hal yang menjadi keinginan Anda
- Tanyakan kepada diri Anda seberapa besar Anda membutuhkan dan mengharapkan keinginan-keinginan tadi dan buat skala prioritas
- Jika Anda memiliki kelebihan dana, silakan lihat daftar keinginan yang mungkin dipenuhi setelah memastikan kebutuhan penting telah terpenuhi. Tanyakan pula pada diri Anda apakah kelebihan dana tersebut pantas digunakan untuk memenuhi keinginan atau ada tempat lain yang lebih membutuhkan dan lebih berhak atas kelebihan tersebut.
- Jika Anda tidak memiliki kelebihan dana, hindari melihat benda-benda yang bisa menciptakan munculnya keinginan karena akan menjadi obsesi.
- Jika Anda terlanjur tertarik dan memiliki keinginan untuk membeli sesuatu, hindari untuk membeli langsung pada saat itu. Netralkan emosi dan perasaan Anda dan biarkan aspek rasional Anda mengimbangi. Nanti setelah pertimbangan Anda sudah lebih wajar dan adil, Anda dapat memutuskan apakah barang yang menarik hati tadi perlu untuk dibeli atau tidak.
Langganan:
Postingan (Atom)

